kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Ini Makna Kandean Dulang, Alat Makan Tradisional Toraja

KabarMakassar.com — Kandean dulang atau alat makan tradisional khas orang Toraja ternyata memiliki arti budaya, sejarah hingga strata sosial didalamnya. Kandean dulang juga memiliki peranan penting bagi orang Toraja. Aspek fungsinya tidak sebatas sebagai wadah makanan semata tetapi lebih dari itu, terintegrasi ke dalam sistem penguburan, identitas budaya, stratifikasi sosial, dan estetika.

Kandean berarti piring, sedangkan dulang merupakan asal dari kata dolong yang berarti tempat lauk pauk, dan sayuran. 

Sejarah dari kandean dulang yang dikutip dari berakhirpekan.com jika dulunya kandean dulang dibuat oleh setiap keluarga sesuai jumlah anggotanya, tidak dibuat dalam jumlah banyak dan tidak diperdagangkan. Hal ini berkaitan dengan kepemilikan kandean dulang yang bersifat eksklusif.  

Untuk satu kandean tidak dapat dipakai orang lain meskipun dalam satu keluarga inti. Hal ini dicirikan oleh ketinggian kandean dulang yang berbeda-beda sesuai dengan posisi anggota keluarga. Piring yang memiliki kaki tinggi disebut kandean langka’, piring yang berkaki rendah disebut kandean resso’, sedangkan piring dengan tinggi terendah dinamakan dikanukui. Selain memiliki ketinggian berbeda, kandean juga memiliki bentuk yang bertangkai, disebut kandean ditoeanni. 

Perbedaan bentuk tersebut melambangkan strata sosial dalam budaya Toraja. Dalam kepercayaan Aluk Todolo (ajaran hidup tradisional Toraja), orang yang meninggal dunia hanyalah berpindah alam, dari alam dunia ke alam arwah. Artinya, kematian bukanlah perubahan yang esensial dalam perjalanan hidup manusia. Pemahaman tersebut berpengaruh pada kandean dulang yang diikutkan ke dalam kubur, karena arwah tersebut dianggap masih tetap menggunakannya.   

Sementara itu status sosial yang melekat pada orang yang masih hidup tetap melekat ketika mati, termasuk kandean dulang yang merepresentasikan status tersebut. Hal itu menggambarkan pentingnya kandean dulang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan yang sakral. 

Bentuk kandean dulang yang geometris dan dipadu dengan tangkai (pegangan) merupakan wujud ekspresi seni Orang Toraja, yang dapat juga kita temukan dalam sebuah syair lagu “Dolong-Dolong”. 

Penggunaan kandean dulang di jamannya dianggap memiliki efisiensi yang tinggi, karena kandean dulang yang berbahan kayu tidak mudah pecah atau retak. Meskipun Orang Toraja pada umumnya sudah menggunakan piring plastik atau kaca untuk kebutuhan sehari-hari, kandean dulang masih dapat ditemukan di beberapa rumah terutama di desa-desa yang pola kehidupannya masih tradisional. 

Hanya sebagian saja yang masih difungsikan sebagai alat-alat dapur atau makan, sebagian lainnya disimpan sebagai warisan dari orang tua atau nenek-kakeknya. Ini menggambarkan bahwa kandean dulang memiliki ikatan dengan penggunanya, bukan semata fungsinya sebagai alat makan.

Kandean dulang juga menjadi bagian dari landmark Kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara. Bahkan tugu kandean dulang menjadi titik nol kota Rantepao yang terletak persimpangan yang dulunya ramai areal pertokoan. Dimana kandean dulang diatasnya terdapat miniatur tongkonan toraja. 

Kini Kandean dulang hanya menjadi hiasan rumah, peralatan makan pada jamannya sangat penting untuk alat makan orang toraja, kini alat tersebut menjadi koleksi saja atau bahkan jadi hiasan dirumah-rumah. Kandean dulang ini bisa anda dapatkan dibeberapa toko ole-ole di obyek wisata Kete Kesu, Londa dan beberapa tempat jualan ole-ole khas Toraja lainnya. (Sumber: Berakhirpekan.com dan berbagai sumber lainnya)
 

error: Content is protected !!