KabarMakassar.com — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan Indonesia menghentikan impor gula putih mulai 2026.
Target tersebut didorong melalui percepatan hilirisasi dan pengembangan tebu secara masif, dengan Provinsi Jawa Timur sebagai penopang utama produksi gula nasional.
Hal itu disampaikan Mentan Amran dalam Rapat Koordinasi Percepatan Hilirisasi Perkebunan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, BUMN perkebunan, serta pemangku kepentingan terkait di Surabaya, Selasa (23/12).
“Kalau Jawa Timur berhasil, nasional insya Allah tahun depan kita tidak akan impor gula putih. Karena lebih dari 50 persen kebun tebu nasional berada di Jawa Timur,” tegas Amran.
Ia menjelaskan, pemerintah menargetkan perluasan dan optimalisasi lahan tebu hingga 100 ribu hektare secara nasional. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 ribu hektare atau 70 persen berada di Jawa Timur.
Program ini dilaksanakan melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta BUMN perkebunan, dengan dukungan aparat penegak hukum guna memastikan percepatan di lapangan berjalan optimal.
Selain pengembangan lahan, Kementerian Pertanian juga menyiapkan dukungan sarana dan prasarana produksi. Khusus di Jawa Timur, pemerintah akan menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian, termasuk sedikitnya 100 unit traktor, dengan nilai anggaran mencapai ratusan miliar rupiah untuk meningkatkan produktivitas tebu petani.
Mentan Amran menyebut, jika program pengembangan tebu berjalan sesuai target, produksi gula nasional diproyeksikan meningkat signifikan. Dari produksi saat ini sekitar 2,68 juta ton, ditargetkan naik menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun depan.
“Dengan peningkatan produksi tersebut, kebutuhan konsumsi gula putih nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri. Ini bukan hanya soal berhenti impor, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani tebu,” pungkas Amran.













