KabarMakassar.com — Anggota Komisi V DPR RI Hamka B. Kady mengingatkan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca untuk menciptakan hujan buatan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Sebelum penyemaian awan, diperlukan survei dan analisis oleh tenaga ahli untuk memastikan keberadaan awan yang mengandung air agar pelaksanaannya tepat sasaran dan tidak menjadi pemborosan anggaran.
Politisi daerah asal Sulsel itu mengatakan kondisi cuaca perlu menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan modifikasi cuaca, terlebih Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan kemungkinan berlangsungnya El Nino dalam waktu yang panjang.
“BMKG sudah menyampaikan kepada kita bahwa El Nino ini kemungkinan panjang. Bahkan, bisa sampai tahun berikutnya dan baru selesai awal Januari 2027. Tetapi, di beberapa daerah mungkin pertengahan bulan depan sudah ada sebagian yang bisa,” ujar Hamka dalam keterangannya, Minggu (30/08).
Menurut Hamka, salah satu tantangan dalam pelaksanaan hujan buatan adalah menentukan keberadaan awan yang memiliki kandungan air. Teknologi penyemaian awan hanya dapat dilakukan apabila terdapat awan yang memenuhi kondisi tersebut.
“Persoalannya sekarang, masalah penyemaian atau menciptakan hujan buatan itu tidak mudah. Harus dilihat dulu di mana kumpulan awan yang mengandung hujan, kemudian diteliti,” jelasnya.
Ia menerangkan, kondisi awan harus dianalisis terlebih dahulu untuk memastikan kandungan airnya. Apabila memenuhi syarat, barulah teknologi penyemaian dapat diterapkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan bahan penyemai di atas awan.
“Yang penting dilihat dulu, dianalisis dulu, awan-awan ini mengandung air atau tidak. Kalau itu mengandung air, teknologi yang kemudian dipakai adalah menerbangkan itu di atas awan untuk menyemai, sehingga menciptakan hujan,” terangnya.
Hamka menegaskan, keberadaan awan saja tidak cukup untuk menjadi dasar pelaksanaan hujan buatan. Jika awan tidak mengandung unsur air, proses penyemaian tidak dapat dilakukan secara efektif.
“Tetapi kalau awannya tidak ada yang mengandung unsur air, bagaimana mungkin? Secara teknologi itu tidak bisa. Itu yang pasti. Tidak sembarang juga harus minta kepada BMKG, minta hujan buatan. Tidak mudah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan perlunya perhitungan yang matang sebelum penyemaian awan dilakukan, mengingat biaya yang dibutuhkan dalam setiap pelaksanaan hujan buatan cukup besar.
“Harus disurvei dulu, awan mana yang mengandung air. Bayangkan berapa biayanya, miliaran satu kali penaburan itu. Kalau tidak dapat air, bagaimana? Itu membuang-buang uang,” katanya.
Karena itu, Hamka menilai survei oleh tenaga ahli merupakan tahapan penting sebelum teknologi modifikasi cuaca diterapkan. Para ahli perlu memastikan kondisi awan yang akan disemai agar pelaksanaan hujan buatan tepat sasaran.
“Tidak mudah. Survei pertama melihat dulu, ahlinya melihat. Oh, ini ada awan mengandung hujan, oke, dilanjutkan. Itu kuncinya,” tutup Hamka.













