KabarMakassar.com — Pada hari terakhir pelaksanaan Festival Aksara Lontaraq (Falaq) III, digelar Seminar Menyongsong Penerapan Perda Aksara Lontaraq di gedung Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Sabtu, (15/10).
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Sulsel, Hasan Sijaya mengatakan, seminar yang digelar merupakan gerakan semua pihak, yang ingin melestarikan budaya aksara lontaraq.
"DPK Sulsel hanya memfasilitasi para seniman, budayawan, penulis, akademisi dan sahabat-sahabat lain yang ingin melihat, memperhatikan dan mempunyai empati bahwa warisan budaya kita ini yang namanya aksara lontaraq tidak boleh sirna," ungkapnya.
Ia berharap kedepannya ada regulasi yang dapat memudahkan semua pihak dalam melestarikan dan mengembalikan kejayaan aksara lontaraq di Sulawesi Selatan.
"Karena Yayasan, lembaga-nya sudah ada kalau ditempel dengan regulasi kita Perda, keleluasaan kita untuk terus mensosialisasikan dan menjabarkan program-program terkait dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait naskah kuno atau aksara lontaraq ini bisa kita jalankan sesuai apa yang menjadi keinginan kita sama-sama,“ tuturnya.
Sejalan, Pakar Filologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Nurhayati Rahman mengatakan, aksara lontaraq merupakan satu-satunya aksara yang berasal dari Sulawesi Selatan yang wajib di lestarikan.
"Lontaraq ini adalah bahasa satu-satunya yang tersisa di Daerah kita. Mari kita pelihara itu dan harus kita pertahankan," terangnya.
Ia menyebut, akasara lontaraq merupakan pemersatu di Sulawesi Selatan.
"Lontaraq Sebagai Sumber Pemersatu dan Integrasi Bangsa di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat," katanya.
"Dengan itu, Bahasa Aksara Lontaraq tidak hanya materi namun harus kita praktekkan, kita latih agar Budaya ini tidak hilang dan tetap dilestarikan oleh semua generasi muda," jelasnya.
Sementara itu, Penggagas Aksara Lontaraq Upi Asmaradhana menyampaikan terima kasih kepada Kadis DPK Sulsel dan jajarannya yang telah memberi ruang bagi para budayawan, seniman, penulis, aktivis, jurnalis, akademisi sehingga Festival Aksara Lontaraq ini bisa berlangsung.
"Tidak banyak bangsa-bangsa di dunia yang memiliki aksara dan ketika sebuah bangsa atau masyarakat memiliki aksara, itu menandakan bahwa peradaban masyarakat itu cukup tinggi," terangnya.
CEO Kabar Grup Indonesia ini menegaskan transformasi dan sosialisasi untuk mendorong masyarakat Sulawesi Selatan agar bangga dengan budayanya sendiri itu akan terus dilakukan.
"Diharapkan melalui Perda Literasi Aksara Lontaraq nantinya menjadi aturan, regulasi yang ‘memaksa’ masyarakat kita menggunakan aksara dan bahasanya sendiri," tegasnya.
Duta Literasi Digital Sulawesi Selatan ini juga melaporkan, tahun ini sudah terbentuk sebuah yayasan bernama Yayasan Aksara Lontaraq.
"Insya Allah tahun depan pelaksanaan Festival Aksara Lontaraq yang keempat akan dilaksanakan Yayasan Aksara Lontaraq," bebernya.
Pada tahun ini, juga telah ditetapkan duta Lontaraq yaitu Qayla Raya RY siswi kelas 12 SMA Negeri 1 Makassar, dimana salah satu buku karyanya yaitu Lontaraq Jangan-Jangan yang dikemas dalam bentuk e-book telah dilaunching pada rangkaian acara Festival Aksara Lontaraq ke-3 di Kantor DPK Sulsel, Jumat, 14 Oktober 2022 lalu.
Seminar Aksara Lontarq ini diikuti peserta dari berbagai kalangan di Sulawesi Selatan, kepala dinas perpustakaan kabupaten kota, pustakawan, seniman, budayawan, penulis, akademisi, pegiat literasi, guru, siswa dan masyarakat umum baik secara luring maupun secara daring zoo meeting, kanal You Tube Kabar Makassar dan melalui live steaming RRI Pro empat Makassar.
Untuk diketahui, setelah berlangsung selama tiga hari, Festival Aksara Lontaraq (Falaq) III tahun 2022 resmi berakhir, Sabtu 15 Oktober 2022.
Ini merupakan kali ketiga Falaq digelar, dimana sebeleumnya juga digelar pada tahun 2020 dan 2021.
Rencananya Falaq akan kembali digelar pada tahun 2023 mendatang dengan pelaksana Yayasan Aksara Lontaraq yang telah resmi terbentuk. (Asri/Adel)














