KabarMakassar.com — Anggota DPR RI asal Sulsel Hj. Meity Rahmatia mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai dan platform digital oleh anak-anak, menyusul temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait penyusupan paham radikal melalui permainan daring (game online).
Menurut Meity, pengawasan keluarga merupakan benteng pertama untuk melindungi generasi muda dari paparan ideologi berbahaya yang kini menyusup lewat kanal digital.
“Peran orang tua sangat berpengaruh karena mereka yang paling memahami dan paling dekat dengan anak-anaknya,” ujarnya, Minggu (12/10).
Politisi dari Komisi XIII DPR RI ini menegaskan, fenomena infiltrasi paham radikal melalui game dan media sosial kini bukan sekadar kekhawatiran, melainkan ancaman nyata yang membutuhkan langkah serius.
“Kita semua harus mewaspadai adanya sisipan konten dalam permainan-permainan berbasis digital yang bisa mengarahkan anak-anak kita ke pemikiran radikal,” ujarnya.
Meity menilai, upaya deradikalisasi tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga keamanan dan pendidikan, melainkan harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat, terutama ibu-ibu sebagai figur terdekat dalam pembentukan karakter anak.
“Saya setuju dengan BNPT, peran ibu harus lebih didorong agar mampu mengelola dan mendidik anak-anaknya dalam penggunaan platform dan fitur digital. Dunia maya sekarang bukan sekadar hiburan, tapi ruang pembentukan ideologi,” tegasnya.
Kata Meity, BNPT mengungkap hasil penelitian terbaru lembaganya yang menemukan adanya upaya sistematis penyebaran paham radikal melalui game online, termasuk Roblox. Anak-anak, kata dia, digiring secara halus untuk bergabung dalam grup WhatsApp atau Telegram yang kemudian digunakan sebagai medium penyebaran narasi kekerasan.
“Game menjadi pintu masuk. Setelah mereka tertarik, pelaku akan mengajak anak-anak ke ruang komunikasi tertutup di media sosial. Di sanalah indoktrinasi mulai dilakukan,” ujarnya mengulang.
BNPT juga gencar mendorong kampanye literasi digital dan penguatan peran keluarga, terutama kalangan perempuan, dalam menangkal infiltrasi ideologi ekstrem. Pendekatan berbasis keluarga dinilai paling efektif karena anak-anak lebih terbuka terhadap bimbingan orang tua dibandingkan larangan dari pihak luar.
Sehingga Hj. Meity kembali mengingatkan bahwa pengawasan digital tidak cukup hanya membatasi waktu bermain atau penggunaan gawai, tetapi juga memahami konten, interaksi, dan komunitas digital yang diikuti anak-anak.
“Kalau dulu pengawasan orang tua cukup di dunia nyata, kini harus masuk ke dunia maya. Kita tidak bisa membiarkan ruang digital menjadi ladang subur bagi penyebaran ideologi radikal,” pungkasnya.
Dengan meningkatnya arus informasi dan interaksi lintas batas di dunia digital, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga dinilai menjadi kunci utama untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari paham kekerasan.













