kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

DP3A Makassar Akui Bingung Tangani Kasus LGBT

DP3A Makassar Akui Bingung Tangani Kasus LGBT
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar mengaku menghadapi tantangan serius dalam menangani kasus LGBT.

Kepala DP3A Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar, secara terbuka menyatakan pihaknya bingung menentukan langkah tepat, terutama terkait tempat pembinaan dan rehabilitasi yang terjerat kasus serupa.

“Kami bingung untuk penanganannya, karena ini bukan kasus biasa LGBT. Kami dapat laporan dari orang tua yang anaknya menjadi korban. Tidak mungkin mereka sendiri melapor karena sudah terlanjur ketagihan. Awalnya sama-sama suka, tapi kemudian terlihat adanya kelainan pada anaknya,” ungkap drg Ita di Makassar, Rabu (12/11).

Dari hasil penelusuran DP3A, ada beberapa kasus melibatkan anak usia sekolah yang menjadi korban sekaligus pelaku hubungan sesama jenis. Kondisi ini membuat penanganan menjadi rumit, sebab selain aspek hukum dan sosial, juga menyentuh sisi psikologis serta pendidikan anak.

“Setelah kami telusuri, ternyata pasangannya juga masih sekolah. Ini yang membuat kami bingung bagaimana cara mengatasinya, dan di mana harus menempatkan anak ini,” ujar drg Ita.

Menurutnya, DP3A sempat berencana menempatkan anak tersebut di pesantren sebagai bentuk pembinaan berbasis agama. Namun dikhawatirkan akan muncul korban lain dengan kasus serupa, opsi tersebut masih dikaji ulang.

“Kita bisa di pesantren. Tapi kalau ada korban lain sesama jenis, kami khawatir malah menimbulkan masalah baru. Jadi kami pertimbangkan untuk menempatkannya di rumah aman, tempat yang lebih terkontrol,” jelas drg Ita.

DP3A Makassar saat ini fokus memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi. Program edukasi sudah dimulai sejak awal 2025, menyasar guru Bimbingan Konseling (BK), siswa, serta orang tua dari jenjang PAUD hingga SMP.

“Kami berikan pemahaman agar guru dan siswa cepat melapor jika menemukan kasus serupa. Nanti kami tangani melalui Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga),” terang drg Ita.

DP3A Makassar kini berkomitmen memperkuat kerja sama lintas sektor, mulai dari sekolah, lembaga sosial, klinik kesehatan, hingga forum anak. Program ini diharapkan menjadi benteng pertama dalam mencegah perilaku menyimpang di kalangan pelajar.

“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan nilai moral dan kasih sayang yang kuat. LGBT bukan sekadar persoalan perilaku, tapi refleksi dari kurangnya bimbingan. Kalau rumah dan sekolah bersinergi, anak-anak kita akan lebih terlindungi,” tutup Ita.

Loading