KabarMakassar.com — Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman, secara terbuka menantang para saudagar yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan dalam forum Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI melakukan investasi di Sulsel.
Di hadapan ratusan diaspora Bugis-Makassar, ia menegaskan bahwa momentum PSBM bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan titik strategis untuk mendorong peran nyata KKSS dalam pembangunan daerah.
“Kami bukan orientasi bisnis semata. Kami dorong saudagar KKSS masuk membangun, terutama di sektor yang punya nilai komersial,” tegasnya, Kamis (26/03).
Ia memaparkan, pemerintah provinsi saat ini tengah membuka ruang luas bagi investasi di berbagai sektor strategis, mulai dari infrastruktur jalan, irigasi, hingga layanan kesehatan.
Salah satu peluang terbesar, kata dia, adalah pembangunan infrastruktur jalan sepanjang 1.000 kilometer dengan total anggaran mencapai Rp3,7 triliun. Proyek tersebut menjadi bagian dari percepatan konektivitas wilayah yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
Tak hanya itu, sektor pertanian juga disiapkan melalui pembangunan irigasi teknis seluas 54 ribu hektare dengan nilai proyek sekitar Rp780 miliar.
“Kalau dihitung, satu kali panen bisa menghasilkan sekitar Rp2 triliun. Ini peluang besar yang terbuka,” ujarnya.
Di sektor kesehatan, Andi Sudirman secara khusus mengajak saudagar KKSS untuk berinvestasi dalam pembangunan rumah sakit di wilayah yang memiliki potensi komersial, sementara daerah terpencil tetap akan ditangani pemerintah sebagai bagian dari skema subsidi silang.
Ia menyoroti masih banyaknya masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan, bahkan meninggal di perjalanan akibat jauhnya fasilitas medis.
“Kami ingin saudagar masuk bangun rumah sakit di wilayah strategis. Yang tidak terjangkau, biar pemerintah yang tangani,” katanya.
Selain itu, Pemprov Sulsel juga mendorong inovasi konektivitas antarwilayah, termasuk rencana pengembangan subsidi penerbangan hingga penggunaan pesawat amfibi (seaplane) untuk menjangkau wilayah kepulauan.
Langkah ini dinilai penting mengingat masih ada daerah yang membutuhkan waktu hingga 72 jam untuk menjangkau fasilitas kesehatan di daratan.
Di sisi lain, Andi Sudirman juga menekankan efisiensi anggaran sebagai strategi memperluas dampak pembangunan. Ia menyebut telah melakukan penghematan hingga Rp1,4 triliun yang kemudian dialihkan untuk program prioritas seperti penanganan stunting.
“Anggaran yang tidak efektif kami ubah menjadi program nyata. Lebih dari 215 ribu masyarakat sudah kami intervensi untuk penanganan stunting,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menilai keberadaan KKSS sebagai kekuatan besar yang mampu menghimpun tokoh-tokoh nasional, termasuk kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Menurutnya, potensi jejaring tersebut harus diarahkan untuk memberi kontribusi nyata terhadap pembangunan Sulawesi Selatan.
“KKSS ini bukan sekadar forum. Ini kekuatan besar yang bisa mendorong pembangunan daerah jika bergerak bersama,” jelasnya.
Ia pun memastikan pemerintah telah memiliki peta jalan pembangunan yang jelas melalui RPJMD, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan prioritas masyarakat, terutama infrastruktur dasar.
Meski begitu, Andi Sudirman mengakui masih adanya keterbatasan, khususnya pada kondisi jalan yang belum sepenuhnya mantap. Namun, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mempercepat pembangunan, termasuk melalui dukungan anggaran ke kabupaten/kota.
“Kami fokus menyelesaikan kebutuhan prioritas masyarakat. Jalan tetap menjadi kebutuhan utama yang terus kami benahi,” tukasnya.
