kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Cuaca Mendung Dominasi Sulsel, Hilal Diprediksi Sulit Terlihat

Cuaca Mendukung Dominasi Sulsel, Hilal Diprediksi Sulit Terlihat
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, (Dok: KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Kementerian Agama (Kemenag) wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) menyebut, peluang terlihatnya hilal penanda awal Ramadan 1447 Hijriah di Sulsel diperkirakan menghadapi tantangan besar tahun 2026.

Hal tersebut karena faktor cuaca yang didominasi hujan dan mendung dalam beberapa waktu terakhir dinilai menjadi hambatan utama proses rukyatul hilal.

Kepala Kantor Kemenag Sulsel, Ali Yafid, mengakui kondisi atmosfer di daerah ini belum sepenuhnya mendukung pengamatan hilal yang dijadwalkan berlangsung 17 Februari 2026 mendatang di Gedung Iqra lantai 18 Universitas Muhammadiyah Makassar.

“Di Sulawesi Selatan ini hampir setiap hari hujan, kemudian mendung, saya kira agak sulit. Tapi kita tetap berusaha, mudah-mudahan tanggal 17 itu cuacanya cerah,” ujarnya, Sabtu (14/02).

Meski prediksi visibilitas hilal rendah, Kemenag Sulsel tetap menyiapkan pelaksanaan rukyat secara maksimal dengan melibatkan berbagai pihak teknis dan kelembagaan.

Ia menyebut unsur yang akan terlibat antara lain BMKG, Badan Hisab Rukyat, pemerintah provinsi, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga pengadilan agama sebagai otoritas pengesahan hasil rukyat di daerah.

“Nanti pada saat pelaksanaan rukyatul hilal, semua kita kumpulkan BMKG, Badan Hisab Rukyat, ormas, dan pemerintah daerah di bawah panduan Pengadilan Agama,” paparnya.

Hasil pemantauan dari Sulsel nantinya akan dikirim ke pemerintah pusat sebagai bagian dari laporan nasional dari 36 titik rukyat di Indonesia untuk dibahas dalam sidang isbat Kementerian Agama.

Penetapan awal Ramadan sendiri masih menunggu hasil sidang tersebut, dengan dua kemungkinan tanggal yang mengemuka. “Apakah 1 Ramadan jatuh pada 18 atau 19, itu nanti ditentukan di sidang isbat,” kata Ali Yafid.

Ia menambahkan, standar penentuan visibilitas hilal mengacu pada kesepakatan negara anggota MABIMS Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura yakni ketinggian minimal tiga derajat di atas ufuk.

“Posisi hilal berdasarkan kesepakatan MABIMS itu tiga derajat di atas ufuk,” tukasnya.

error: Content is protected !!