Indeks
News  

Bomar Ekspor 15 Kontainer Udang per Bulan, 80 Persen ke Jepang

Bomar Ekspor 15 Kontainer Udang per Bulan, 80 Persen ke Jepang
Suasana Lokasi PT Bomar (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — PT Bogatama Marinusa (Bomar Group) mencatat aktivitas ekspor produk udang yang cukup besar dengan rata-rata 13 hingga 15 kontainer per bulan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen masih menyasar pasar Jepang hingga saat ini.

General Manager (GM) Makassar PT Bogatama Marinusa, Jumeri alias Rirhy, mengatakan Jepang hingga kini masih menjadi pasar utama produk udang Bomar. Namun, perusahaan mulai menyiapkan diversifikasi pasar karena permintaan dari Jepang dinilai berpotensi mengalami penurunan.

“Ekspor Bomar rata-rata dalam satu bulan minimal 13 sampai 15 kontainer. Sekitar 80 persen masih ke Jepang,” kata Rirhy, Jumat (07/08).

Menurutnya, perubahan demografi Jepang menjadi salah satu alasan perusahaan mulai memperluas pasar ke negara-negara Asia lainnya. Bomar kini mulai menggarap pasar China, Korea, Vietnam, India, serta sejumlah negara Asia lainnya.

“Kita rintis daerah Asia sekarang ini untuk tambahan karena 80 persen Jepang itu sudah mulai menurun,” ujarnya.

Rirhy menjelaskan, ekspansi pasar dilakukan untuk menjaga keberlanjutan ekspor sekaligus mengantisipasi perubahan permintaan di negara tujuan utama. China dinilai menjadi salah satu pasar potensial karena jumlah penduduknya yang sangat besar.

Bomar, kata dia, tidak hanya mengandalkan aktivitas pengolahan dan ekspor. Perusahaan juga membangun rantai usaha dari pembenihan, pembesaran hingga pengolahan udang.

Di Kabupaten Barru, Bomar mengembangkan fasilitas pembenihan di lahan lebih dari empat hektare. Perusahaan juga tengah melakukan uji coba pengembangan lebih dari 300 kolam bundar di kawasan Takkalasi untuk mendorong peningkatan produksi udang Sulawesi Selatan.

“Kami bikin kolam ini kurang lebih 300 lebih kolam di Takkalasi untuk meningkatkan produksi udang Sulawesi Selatan, meningkatkan ekspor kita ke luar negeri dan meningkatkan devisa negara,” jelasnya.

Jumeri menyebut kebutuhan bahan baku Bomar mencapai sekitar 30 hingga 50 ton udang per hari. Namun, pasokan dari petambak lokal belum selalu mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kami butuh 30 ton, 50 ton per hari. Itu pun per hari tidak ada yang bisa kasih saya segitu,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Bomar mendorong petambak agar meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil budidaya. Perusahaan juga meminta dukungan pemerintah melalui penyuluh dan instansi terkait untuk melakukan pendampingan kepada petani tambak.

Menurut Rirhy, petambak masih menghadapi sejumlah risiko, mulai dari perubahan cuaca, kondisi lingkungan hingga ancaman bakteri dan virus yang dapat menyebabkan kegagalan panen.

“Petani tambak harus dikawal. Penyuluh harus betul-betul ikut supaya mereka bisa sukses,” ujarnya.

Selain memperkuat pasokan, Bomar juga mulai mengembangkan produk olahan bernilai tambah untuk pasar ekspor. Perusahaan berencana mengembangkan produk makanan siap panaskan pada 2027 yang menyesuaikan pola konsumsi masyarakat di negara tujuan.

Rirhy menegaskan, penguatan rantai produksi dan perluasan pasar menjadi bagian dari strategi Bomar menjaga keberlanjutan industri udang Sulawesi Selatan sekaligus mempertahankan kontribusinya terhadap ekspor.

Bomar sendiri disebut mempekerjakan sekitar 1.500 orang, dengan mayoritas tenaga kerja berasal dari Sulawesi Selatan. Aktivitas produksi yang membutuhkan proses manual, seperti pemotongan kepala dan pengupasan udang, membuat industri ini masih membutuhkan banyak tenaga kerja.

“Di dalam mulai dari yang baru tamat SMA sampai ibu-ibu ada. Karena proses produksi udang itu masih banyak yang harus dikerjakan manusia,” tukas Rirhy.

error: Content is protected !!
Exit mobile version