KabarSelatan.id — Sebuah artikel disampaikan oleh Bapak Jasmin yang tercatat sebagai Guru Agama di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 8 Kabupaten Jeneponto.
Dalam artikel tersebut, penggemar Bulutangkis ini mengurai Perayaan hari raya Idhul Fitri yang kerap dilakukan kaum Muslim. Namun dibalik itu, sambungnya, Kegembiraan seperti apa dan bagaimana saat idhul fitri tiba?," tanya Jasmin.
Jusmin kemudian meminta ijin melalui artikel menyampaikan makna bergembira saat Idhul fitri.
Assalamu Alaikum. Wr. Wb.
Menurutnya, Idhul fitri sejatinya merupakan puncak dari perjalanan rohani manusia muslim dimana, di wajibkan untuk menahan haus dan dahaga. Selain itu pula, wajib menahan diri serta introspeksi diri.
Tak ada ibadah yang penuh rahmah berlipat ganda selain hanya di Ramadhan.
Belajar menahan diri dan melaksanakan ibadah ibadah yang sunnah. Selain wajib sehingga akan membentuk karakter yang tenang.
Jika hak ini terwujud maka benarlah bahwa sesungguhnya semua Syetan itu dibelenggu atau dirantai serta api neraka ditutup di bulan suci Ramadhan.
Namun yang jadi pertanyaan…? Kegembiraan seperti apa dan bagaimana saat Idhul Fitri tiba?
Jika kita bergembira Idhul Fitri tiba karna sebulan penuh menahan lapar dan dahaga saling berbagi sesama serta banyak melaksanakan ibadah lainnya serta bergembira karena bertemu sanak keluarga, tetangga dan sahabat handai toulan. Saling memaafkan atas segala kesalahan yang selama ini diperbuat.
Maka semoga Ramadhan itu jadi pemicu menjadi manusia yang lebih baik lebih Tawaddu, lebih mendekatkan diri kepada Allah dan akan menjadi pembiasaan diluar Ramadhan nantinya jika sudah berlalu.
Maka dari itu, manusia muslim tersebut adalah manusia yang berkualitas berdasarkan Qs. Al Mujadilah ayat 11 yang menjelaskan tentang Allah mengangkat derajat orang yang beriman.
Bergembira saat Idhul Fitri. Tetapi, seakan akan terlepas dari beban selama sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa maupun sholat wajib dan sunnah lainnya.
Setelah ibadahnya kembali seperti sebelum Ramadhan. Sebagian dari muslim sangat bergembira menyambut idul fitri tetapi di tandai dengan kembalinya aksi hura hura, bermaksiat dan melakukan kembali hal-hal yang dilarang oleh Allah dan RasulNya…
Maka menurutnya, kegembiraan seperti ini adalah kegembiraan yang sia sia.
Padahal Allah berpesan dalam surah Al Baqarah ayat 197. Yang berbunyi, berbekallah karena sebaik baik bekal adalah taqwa," seru Jasmin.
Lalu apa esensinya Ramadhan jika pada akhirnya kembali melakukan hal yang sia-sia?
Semestinya ada kebiasaan yang terbawa dari Ramadhan sampai diluar Ramadhan. Paling tidak lebih tawaddu Kepada Allah Azza Wajallah.
"Menjaga sikap dan perilaku kita serta menghargai orang lain," ungkapnya.
Nah…! Rasulullah bersabda, manusia yang baik adalah manusia yang lebih baik dari sebelumnya manusia yang rugi adalah perilakunya masih sama seperti sebelumnya.
Apakah kita termasuk bergembira karna hal yang pertama diatas? tanya Jasmin.
Atau hal kedua…?
"Hhmm kembalikan kepada diri masing masing.. Semoga menjadi introspeksi diri.. Memaknai kegembiraan idhul fitri itu sendiri.. Karna tujuan puasa ramadhan adalah membentuk manusia yang bertakwa..
Wallahu a'lam ( jika keliru itu datangnya dari saya, jika benar maka itu hidayah dari Allah)
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh













