KabarMakassar.com — Kemajuan artificial intelligence (AI) tidak semestinya membuat manusia kehilangan daya pikir maupun kepakarannya.
Anggota Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yuniar Wardani mengingatkan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti proses berpikir, belajar, dan membangun kompetensi.
“Kita bisa memanfaatkannya, tetapi dengan cara bijak,” kata Yuniar dalam podcast Indahnya Cahaya Islam pada Jumat (07/08).
Ia menilai perkembangan AI merupakan konsekuensi kemajuan ilmu pengetahuan dan globalisasi yang membawa banyak manfaat, namun juga menuntut kedewasaan dalam menggunakannya.
Menurut Yuniar, pemanfaatan AI tidak berbeda dengan teknologi lain yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, AI mampu mempercepat pekerjaan dan memudahkan akses terhadap informasi. Namun di sisi lain, ketergantungan yang berlebihan dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis manusia apabila tidak disertai kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi. Manusia, katanya, diciptakan Allah dengan kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lain sehingga memiliki tanggung jawab untuk mengelola ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemaslahatan. Karena itu, manusia harus tetap berada di atas teknologi, bukan justru dikendalikan olehnya.
Dalam pandangannya, tantangan terbesar AI bukan sekadar kemudahan memperoleh jawaban, melainkan ancaman terhadap lahirnya kepakaran. Ia menilai ada kecenderungan sebagian orang merasa cukup pintar tanpa lagi berdiskusi, bermusyawarah, maupun mendalami suatu bidang secara serius. Padahal, menurutnya, kompetensi tidak dapat dibangun hanya dengan menerima informasi secara instan.
Yuniar menegaskan bahwa tidak semua informasi dapat disebut ilmu. Ilmu harus dipelajari melalui proses yang benar dan dibangun oleh orang-orang yang memiliki kompetensi pada bidangnya masing-masing. Oleh sebab itu, AI tidak dapat menggantikan pengalaman, kedalaman analisis, maupun keahlian seorang pakar.
Meski demikian, ia tidak menolak penggunaan AI. Justru, menurutnya, teknologi tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen pendukung pekerjaan. Dalam dunia akademik, misalnya, AI dapat membantu menemukan referensi atau publikasi ilmiah yang sulit diperoleh. Namun seluruh hasil yang diberikan AI tetap harus diverifikasi melalui pengetahuan dan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Yuniar juga mengingatkan bahwa AI memiliki keterbatasan mendasar dibandingkan manusia. Ia menjelaskan bahwa AI tidak memiliki niat, tidak mampu membedakan secara moral benar dan salah dari informasi yang disampaikan, serta tetap memerlukan verifikasi dari manusia. Karena itu, pengguna AI harus memiliki kemampuan menyaring informasi, melakukan tabayun, dan menguji validitas setiap jawaban yang diterima.
Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat agar menggunakan AI hanya untuk kebutuhan yang benar-benar memberikan nilai tambah. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sebenarnya dapat dijawab dengan kemampuan sendiri sebaiknya tidak selalu diserahkan kepada AI. Sikap demikian, menurutnya, akan membantu menjaga kemampuan berpikir dan melatih daya analisis manusia.
Dalam bidang pendidikan, Yuniar menilai pendidik perlu menciptakan ruang belajar yang mendorong peserta didik mengembangkan gagasan sendiri. Ia mengusulkan adanya waktu-waktu tertentu ketika penggunaan AI dibatasi agar siswa maupun mahasiswa terbiasa menuangkan pendapat, menulis, berdiskusi, dan mengembangkan imajinasi tanpa bergantung pada teknologi. Dengan cara itu, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen pengetahuan.
Ia menambahkan bahwa perkembangan AI juga menjadi ujian integritas bagi kalangan akademisi. Di tengah tuntutan publikasi ilmiah dan persaingan memperoleh jabatan akademik, kejujuran serta kepakaran harus tetap dijaga agar teknologi tidak justru mengikis kualitas dunia pendidikan.
Yuniar kembali menegaskan pentingnya menggunakan AI secara proporsional. “AI harus disikapi dengan bijak. Tidak semua informasi itu adalah ilmu dan tidak semua ilmu itu bisa dipelajari langsung tanpa berkomunikasi dengan ahlinya,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat tetap mengoptimalkan akal sebagai anugerah Allah sehingga teknologi benar-benar menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas manusia.













