KabarMakassar.com — Ajaran tasawuf Syekh Yusuf Al-Makassariy dinilai tetap relevan menjawab berbagai persoalan moral di era modern, mulai dari praktik korupsi hingga kerusakan lingkungan.
Nilai-nilai tersebut mengemuka dalam Dialog Budaya memperingati Haul ke-400 Syekh Yusuf Al-Makassariy yang menjadi bagian dari Festival Aksara Lontaraq Vol. VII 2026 di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Kamis (09/07).
Dewan Penasehat Jam’iyyah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassariy, Abu Bakar Paka, mengatakan inti ajaran Syekh Yusuf bukan hanya mengajarkan hubungan spiritual dengan Tuhan, tetapi juga membangun tanggung jawab kepada sesama manusia dan alam.
“Syekh Yusuf mengajak manusia bukan hanya untuk dekat kepada Tuhan, tetapi juga dekat kepada sesama dan dekat kepada alam. Karena itu manusia harus hidup berdampingan dan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Menurut Abu Bakar Paka, ajaran tasawuf Syekh Yusuf mengenal konsep Ikhatah dan Maiyah. Ia menjelaskan Ikhatah bermakna ilmu Allah meliputi seluruh ciptaan, sedangkan Maiyah mengandung makna bahwa Allah senantiasa membersamai setiap langkah dan perbuatan manusia.
“Kalau Ikhatah dan Maiyah ini dipegang teguh, tidak ada orang yang korupsi dan tidak ada orang yang merusak bumi,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Abu Bakar Paka juga mengulas besarnya pengaruh Syekh Yusuf sehingga sosoknya terus ditakuti pemerintah kolonial Belanda dalam berbagai fase kehidupan. Menurutnya, rasa takut itu muncul saat Syekh Yusuf masih memimpin perlawanan bersama Sultan Ageng Tirtayasa, ketika menjalani masa pembuangan, hingga setelah wafat karena pengaruh ajaran-ajarannya terus berkembang.
Ia menilai yang paling ditakuti Belanda bukan semata perjuangan fisik Syekh Yusuf, melainkan penyebaran pemikiran dan ajaran tasawufnya yang membentuk karakter masyarakat.
“Yang paling ditakuti Belanda adalah ajarannya. Karena ajaran itulah yang terus hidup dan memengaruhi masyarakat meskipun Syekh Yusuf telah wafat,” katanya.
Abu Bakar Paka berharap warisan pemikiran Syekh Yusuf terus diangkat, dipelajari, dan diajarkan kepada generasi muda sebagai fondasi membangun peradaban yang berlandaskan nilai keislaman, kemanusiaan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
