KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin pagi (04/08).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah naik sebesar 0,52% dan diperdagangkan di level Rp16.400 per dolar AS, berbalik arah setelah akhir pekan lalu melemah ke posisi Rp16.485.
Kenaikan tajam rupiah pagi ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,31% ke level 98,83 pada pukul 10.00 WITA.
Indeks dolar memang sudah dalam tren menurun sejak Jumat lalu, setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang jauh di bawah ekspektasi pasar.
Departemen Tenaga Kerja AS mencatat bahwa ekonomi Negeri Paman Sam hanya menambah 73.000 pekerjaan non-pertanian pada Juli 2025—angka yang jauh dari perkiraan 110.000 pekerjaan.
Bahkan data bulan sebelumnya direvisi tajam menjadi 14.000 dari laporan awal 147.000.
Presiden AS Donald Trump langsung bereaksi. Ia memecat Komisaris Biro Statistik Tenaga Kerja, Erika L. McEntarfer, yang sebelumnya diangkat pada masa pemerintahan Joe Biden.
Langkah itu semakin meningkatkan pasar tenaga kerja dan menjadi tekanan tambahan bagi dolar.
Sementara itu, dari dalam negeri, investor tengah menantikan laporan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang dijadwalkan akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pekan ini.
Meskipun Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai sistem keuangan nasional masih stabil, sejumlah analis memperkirakan adanya perlambatan perekonomian.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II melambat menjadi 4,67% secara tahunan (year-on-year), dibandingkan 4,87% pada kuartal I.
Surplus perdagangan yang masih besar pada Juni lalu, sebesar US$4,1 miliar, dianggap sebagai efek dari percepatan ekspor sebelum pemberlakuan tarif dagang baru dari AS.
Namun, dengan mulai berlakunya tarif resiprokal antara Indonesia dan AS mulai Agustus ini, tantangan ekonomi diperkirakan akan semakin terasa pada semester kedua 2025.
