KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat di Akhir Pekan, hal ini didukung penurunan utang pemerintah dan kebijakan global.
Pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (27/09) rupiah ditutup dengan kenaikan 40 poin atau 0,26% ke level Rp15.125 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp15.165. Penguatan ini terjadi di tengah reaksi positif pasar terhadap penurunan utang pemerintah Indonesia serta beberapa kebijakan ekonomi global.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah didorong oleh laporan penurunan utang pemerintah per akhir Agustus 2024 yang mencapai Rp8.461,93 triliun, turun Rp40,76 triliun dari bulan sebelumnya. Menurutnya, pasar merespons positif penurunan utang ini, serta rasio utang terhadap PDB yang berkurang menjadi 38,49% dari 38,68%.
Selain itu, penguatan Rupiah juga dipengaruhi oleh respon pasar global terhadap kebijakan The Fed yang diprediksi akan menurunkan suku bunga hingga 25 basis poin pada pertemuan bulan November. Kebijakan ini diharapkan mendorong aliran modal masuk ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, Bank Sentral China juga mengambil langkah untuk menurunkan suku bunga dan menyuntikkan likuiditas, sebagai upaya merangsang pertumbuhan ekonomi yang diharapkan mencapai target 5% tahun ini.
Pada perdagangan global, rupiah juga tercatat menguat terhadap beberapa mata uang utama, termasuk dolar Australia, euro, dan poundsterling, serta menguat terhadap mata uang Asia seperti yuan dan yen.
Sebelumnya, Pada penutupan perdagangan Kamis (26/09) kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) melemah setelah beberapa hari sebelumnya menunjukkan penguatan yang signifikan. Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp15.165 per USD, turun 63 poin atau 0,42 persen dari penutupan sebelumnya di Rp15.102 per USD.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut pada perdagangan Jumat. Menurutnya, rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif namun berakhir melemah di kisaran Rp15.100 hingga Rp15.200 per USD.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Ibrahim menjelaskan bahwa pelemahan ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal dan internal. Di sisi eksternal, penguatan dolar AS terjadi setelah pasar menanti kebijakan dari para pejabat Federal Reserve, terkait laju penurunan suku bunga AS. Indeks dolar AS terpantau menguat 0,03% menjadi 100,94.
Selain itu, pasar juga menanti rilis data klaim pengangguran di AS, yang akan menjadi indikator penting bagi kebijakan The Fed.
Para investor memperkirakan adanya penurunan suku bunga lebih lanjut, meskipun proyeksi ini mulai mengalami sedikit koreksi.
Pergerakan Mata Uang Asia
Di Asia, mata uang lainnya menunjukkan pergerakan yang beragam. Yen Jepang melemah 0,27%, sementara dolar Singapura menguat 0,13%. Mata uang Taiwan dan Filipina juga mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,07% dan 0,14%. Di sisi lain, won Korea Selatan mencatatkan kenaikan 0,46%, sementara yuan China menguat 0,16%.
Pada awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 0,26% atau 40 poin ke level Rp15.142 per USD, seiring dengan tren pelemahan yang juga dialami beberapa mata uang Asia lainnya.
Prospek Ekonomi Indonesia
Ibrahim juga memberikan pandangan terkait prospek ekonomi Indonesia. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai 5,2% pada 2024 dan meningkat menjadi 5,3% pada 2025, didorong oleh kebijakan fiskal yang efektif serta pendalaman pasar finansial.
“Pemerintah baru di bawah Prabowo-Gibran diharapkan fokus pada pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, dan pengembangan sektor teknologi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ungkap Ibrahim.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun, potensi pertumbuhan jangka panjang masih bisa dimaksimalkan melalui investasi yang bernilai tambah serta kebijakan fiskal yang mendorong produktivitas.
Dari sisi eksternal, surplus perdagangan yang berkelanjutan dan stabilitas aliran investasi asing langsung (FDI) juga menjadi faktor utama yang memperkuat ekonomi Indonesia. Komitmen pemerintah terhadap kebijakan fiskal yang prudent dan reformasi struktural yang terus dilakukan diperkirakan akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah di masa depan.
Ibrahim juga menyoroti pentingnya aliran dana asing (capital inflow) dan penurunan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) sebagai faktor yang dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Dengan neraca keuangan domestik yang sehat dan terjaga, serta dukungan dari masuknya investasi asing, rupiah diperkirakan akan optimis kembali menguat dalam jangka panjang.
