KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah ditutup stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/07). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di posisi Rp16.305 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang stagnan ini sejalan dengan indeks dolar AS (DXY) yang mengalami penguatan tipis sebesar 0,09% ke level 97,94 pada pukul 16:00 WITA. Penguatan ini terjadi setelah DXY sempat terkoreksi tajam 0,64% pada perdagangan Senin (21/07) ke level 97,85.
Menariknya, pada awal perdagangan hari ini (22/07), rupiah sempat menguat. Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka di posisi Rp16.280/US$, naik 0,15% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Penguatan pada pembukaan terjadi di tengah pelemahan dolar AS yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, sebelum akhirnya mengalami rebound tipis menjelang siang.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati rilis data uang yang beredar dari Bank Indonesia. Tercatat, pada Mei 2025 jumlah uang yang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp9.406 triliun atau tumbuh 4,9% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan ini melambat dibandingkan April 2025 yang mencapai 5,2% yoy, dipicu perlambatan pada M1 dan uang kuasi.
Tekanan Global Bayangi Rupiah
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh memburuknya sentimen global. Kekhawatiran pasar meningkat terkait potensi eskalasi perang dagang antara AS dan Uni Eropa, menyusul tenggat waktu penerapan tarif baru sebesar 30% oleh AS pada 1 Agustus mendatang, serta rencana balasan dari pihak Eropa.
Selain itu, paparan mengenai masa depan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve juga memperlemah keyakinan pasar. Meskipun hal ini menekan dolar AS, penguatan tersebut juga meningkatkan volatilitas dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset berisiko seperti mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen Domestik: Kangaroo Bond dan Lelang SBSN
Dari dalam negeri, terdapat angin segar yang sedikit menahan tekanan terhadap rupiah. Pemerintah Indonesia tengah berencana menerbitkan Kangaroo Bond (kewajiban berdenominasi dolar Australia) yang dinilai dapat memperluas basis investor dan mendiversifikasi sumber pembiayaan.
Selain itu, pelaksanaan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) hari ini dengan target indikatif Rp9 triliun turut memberi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.
Namun, beberapa kendala masih membayangi. Status Indonesia sebagai negara berkembang, keterbatasan likuiditas dolar Australia, serta belum pulihnya kepercayaan investor global menjadi faktor yang menahan penguatan rupiah lebih lanjut.
Pasar juga masih mencermati dampak penuh dari pemangkasan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 basis poin (bps) bulan ini terhadap stabilitas nilai tukar.
Prospek Jangka Pendek: Masih Tertekan
Secara keseluruhan, dalam jangka pendek rupiah yang diproyeksikan masih berada dalam tekanan, terutama dari faktor eksternal yang mendominasi sentimen pasar global.
Namun, sejumlah faktor domestik seperti stimulus fiskal, pengelolaan utang, dan strategi pembiayaan alternatif seperti Kangaroo Bond dapat menjadi bantalan untuk meredam tekanan lebih dalam.
