kabarbursa.com
kabarbursa.com

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp16.185, Ditopang Surplus Dagang dan Sentimen Global

Komdigi Ungkap Kerugian Penipuan Digital Capai Rp7,5 Triliun
Ilustrasi rupiah (Dok : Int).

KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (01/07). Mengutip data Refinitiv, rupiah ditutup pada level Rp16.185 per dolar AS, terapresiasi 0,28% dibandingkan hari sebelumnya.

Penguatan ini menghapus pelemahan yang sempat terjadi pada Senin (30/6), di mana rupiah terkoreksi 0,19% ke level Rp16.230.

Sentimen positif terhadap rupiah turut didorong oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang tercatat turun 0,18% ke level 96,69 pada pukul 16.00 WITA.

Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian politik di AS, terutama terkait upaya Senat meloloskan rencana fiskal dan belanja Presiden Donald Trump.

Mengutip Reuters, tekanan terhadap dolar AS juga datang dari kritik terbaru Trump terhadap Federal Reserve dan Gubernur Jerome Powell, yang dinilai memperburuk persepsi investor terhadap independensi bank sentral AS.

Dari Dalam Negeri: Surplus Dagang dan Stabilitas Makro

Dari sisi domestik, kabar baik datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 mencatat surplus sebesar 4,30 miliar US Dolar, menandai surplus bulanan ke-61 secara beruntun.

Surplus tersebut menjadi pendorong penguatan rupiah karena menandakan tingginya ekspor dibanding impor.

Bahkan, angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus hanya 2,66 miliar US Dolar, dan melonjak signifikan dibanding April yang hanya mencatatkan surplus 159 juta US Dolar.

Namun, dari sisi aktivitas manufaktur, Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia pada Juni masih mencatat kontraksi di angka 46,9, menurut laporan S&P Global. Ini menjadi kontraksi ketiga secara berturut-turut dalam tiga bulan terakhir.

Investor Pantau Inflasi dan Arah Kebijakan BI

Dari sisi inflasi, data Juni mencatat kenaikan yang sedikit melampaui perkiraan, namun laju inflasi inti justru melambat menjadi 2,37%, dibanding bulan sebelumnya sebesar 2,40%.

Hal ini mengindikasikan masih lemahnya permintaan domestik dan bisa menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Sementara itu, arus masuk investor ke pasar surat utang negara (SBN) juga meningkat, dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga.

Imbal hasil (yield) obligasi bertenor 2 tahun turun 3,2 basis poin ke 6,020%, tenor 5 tahun turun 4,5 bps ke 6,264%, dan tenor acuan 10 tahun terkoreksi 1,6 bps ke 6,801%.

Kebijakan Pemerintahan Baru Jadi Reaksi Tambahan

Selain faktor-faktor eksternal dan data ekonomi, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan dari pemerintahan baru Presiden Prabowo Subianto.

Tiga kebijakan utama yang diumumkan pada Senin (30/6), deregulasi impor, penyederhanaan perizinan investasi, dan penataan ulang BUMN, dinilai dapat menjadi katalis positif bagi kepercayaan investor dalam jangka menengah hingga panjang.

error: Content is protected !!