Indeks

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Masih Melemah

Rupiah Dibuka Stagnan di Rp16.215, Dolar AS Masih Perkasa
Ilustrasi Rupiah (Dok : KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan yang jatuh hari ini, Senin (29/07).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan hari ini, diprediksi fluktuatif namun akan ditutup melemah di rentang Rp16.290—Rp16.370.

Diketahui, pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (26/7), rupiah melemah 0,31% atau 51 poin ke posisi Rp16.301 per dolar AS, sementara itu, indeks dolar AS terpantau bergerak menguat 0,03% ke level 104.38.

Sepanjang perdagangan hari itu, rupiah bahkan sempat terdepresiasi lebih dalam hingga menyentuh Rp16.295 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi penutup dari minggu yang cukup berat bagi mata uang Indonesia, yang mencatatkan penurunan sebesar 0,62% secara mingguan, lebih besar dari penurunan minggu sebelumnya yang tercatat sebesar 0,31%.

Jika melihat perdagangan sepanjang pekan kemarin, pada pekan terakhir, rupiah hanya mampu menguat pada Selasa (23/07), dengan kenaikan sebesar 0,06%. Pada hari-hari lainnya, rupiah terus mengalami tekanan dan depresiasi.

Salah satu faktor utama yang mengguncang pasar adalah keputusan mengejutkan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, untuk mundur dari pencalonannya kembali melawan mantan Presiden Donald Trump.

Biden mengumumkan pengunduran dirinya melalui media sosial, menyebutkan bahwa kehormatan terbesar dalam hidupnya untuk menjabat sebagai presiden.

“Meskipun saya berniat untuk mencalonkan diri kembali, saya yakin ini demi kepentingan terbaik partai saya dan negara jika saya mundur dan fokus sepenuhnya pada pemenuhan tugas saya sebagai presiden selama sisa masa jabatan saya.”

Pengumuman ini mengejutkan pasar dan meningkatkan ketidakpastian terkait arah kebijakan perdagangan dan investasi AS.

Langkah ini diambil setelah Biden mendapat tekanan dari sekutu-sekutu dekatnya di Partai Demokrat, yang meragukan kemampuan pria berusia 81 tahun tersebut untuk mengalahkan Trump dalam pemilihan presiden mendatang. Ketidakpastian ini menyebabkan peningkatan volatilitas di pasar keuangan, seperti yang terlihat dari kenaikan Volatility Index (VIX).

Di Indonesia, situasi ini diperparah oleh ketidakpastian terkait transisi kepemimpinan dari Presiden Joko Widodo ke Prabowo Subianto, serta persiapan Pilkada.

Ketidakpastian global dan domestik membuat investor cenderung mencari aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, dan menjual aset-aset berisiko seperti rupiah. Hal ini menyebabkan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pelemahan rupiah juga diperparah oleh sentimen global yang semakin negatif setelah pengumuman mendadak Joe Biden untuk tidak mencalonkan diri kembali pada pemilu 2024.

Selain itu, data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan turut menambah tekanan. Pada kuartal II-2024, produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 2,8% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal I-2024 yang hanya sebesar 1,4%, dan juga melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 2%.

Laporan PDB terbaru menunjukkan bahwa dunia usaha di AS terus berinvestasi dan konsumen tetap melakukan pengeluaran, meskipun harga barang masih relatif tinggi. Pelaku pasar mengambil beberapa isyarat positif dari data PDB AS kuartal kedua 2024 yang lebih kuat dari ekspektasi.

Fokus juga tertuju pada data indeks harga PCE AS yang merupakan pengukur inflasi pilihan Federal Reserve, untuk isyarat lebih lanjut tentang pemotongan suku bunga

Di sisi lain, inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) AS yang dirilis baru-baru ini menunjukkan tren melandai dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) pada Juni lalu mencapai 2,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dari posisi Mei yang mencapai 2,6%.

Data inflasi yang sesuai dengan ekspektasi ini meningkatkan harapan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mungkin akan memangkas suku bunga pada pertemuan mereka di bulan September mendatang.

Adapun, masih dari sentimen dalam negeri, pasar terus memantau perkembangan utang luar negeri (ULN) Indonesia ke China terpantau membengkak dalam 10 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dengan posisi terakhir pada Mei 2024 senilai US$22,86 miliar atau setara Rp372,3 triliun (kurs Rp16.288 per dolar AS).

Berdasarkan Data Statistik Utang Luar Negeri milik Bank Indonesia (BI), secara umum posisi ULN Indonesia pada akhir Mei 2024 ini berada di angka US$407,3 miliar atau setara Rp6.634,1 triliun. Posisi tersebut naik 1,8% (year-on-year/yoy) dari Mei 2023 yang senilai Rp400,24 miliar.

Exit mobile version