KabarMakassar.com – Aksi demonstrasi menuntut pemekaran Kabupaten Luwu Tengah dan pembentukan Provinsi Luwu Raya berlangsung serentak di sejumlah titik strategis di wilayah Luwu Raya, Jumat (23/01).
Ribuan massa turun ke jalan dan menutup akses utama lintas kabupaten hingga antarprovinsi.
Aksi yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 ini dilakukan oleh gabungan mahasiswa, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu.
Massa hanya mengizinkan kendaraan ambulans melintas, sementara arus lalu lintas lainnya dihentikan total.
Penutupan jalan terjadi di berbagai titik, mulai dari Larompong Selatan di perbatasan Wajo, jalur Palopo–Toraja Utara, perbatasan Luwu Timur–Sulawesi Tengah, hingga Luwu Timur–Sulawesi Tenggara.
Aksi serupa juga berlangsung di Masamba dan kawasan Sampoddo, Kota Palopo.
Di Jalan Poros Trans Sulawesi, tepatnya di Kelurahan Sampoddo, arus kendaraan lumpuh total setelah massa memalang jalan, membakar ban, serta memarkir satu unit truk kontainer 10 roda secara melintang di badan jalan.
Kemacetan panjang tak terhindarkan, terutama di kawasan pegunungan yang menjadi batas Kota Palopo dan Kabupaten Luwu.
Dalam orasinya, massa menegaskan tuntutan pemekaran wilayah merupakan amanat sejarah dan janji lama negara kepada Tanah Luwu.
“Kami tidak akan menghentikan aksi sebelum Presiden Prabowo mendengar langsung suara rakyat Luwu Raya dan merealisasikan pembentukan Provinsi Luwu Raya,” ujar Poyo, salah satu orator aksi.
Massa juga menilai kontribusi Luwu Raya terhadap Provinsi Sulawesi Selatan tidak sebanding dengan pembangunan yang diterima masyarakat.
“Luwu Raya selama ini menjadi penyumbang besar untuk Sulsel, tapi yang kami rasakan justru jalan rusak dan ketertinggalan. Pemekaran adalah harga mati,” tegas orator lainnya.
Aksi berlangsung secara bergantian di sejumlah titik dengan penyampaian aspirasi terkait pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Luwu Tengah dan DOB Provinsi Luwu Raya.
