Indeks

‎17 Daerah di Sulsel Rawan Bencana, Mulai Banjir Hingga Puting Beliung

‎17 Daerah di Sulsel Rawan Bencana, Mulai Banjir Hingga Puting Beliung
Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo (dok. Ist)

‎Kabarmakassar.com — Sebanyak 17 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan masuk dalam kategori rawan bencana berdasarkan kajian risiko yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulsel. Daerah-daerah tersebut memiliki potensi terhadap berbagai jenis bencana, mulai dari banjir, longsor, gempa bumi, angin puting beliung, hingga kekeringan.

‎Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo mengatakan, hasil pemetaan risiko menunjukkan bahwa setiap wilayah memiliki ancaman yang berbeda-beda bergantung pada kondisi geografisnya. Dia menyebut, meskipun ada daerah yang telah ditetapkan sebagai zona prioritas, potensi bencana kini semakin meluas karena perubahan iklim dan lingkungan.

‎“Sesuai kajian risiko bencana kita, ada beberapa daerah yang memang sudah masuk zona prioritas. Ada lima daerah yang zona prioritas banjir/banjir bandang,” ujarnya, Selasa (28/10).

‎Amson menjelaskan, perubahan kondisi geografis dan meningkatnya curah hujan ekstrem membuat potensi bencana dapat terjadi di luar zona yang sebelumnya dianggap paling rawan.

‎“Karena kondisi sekarang kan sudah banyak perubahan, jadi banjir dan longsor itu bisa terjadi di mana saja, khususnya di daerah yang memiliki kondisi geografis seperti pegunungan dengan intensitas hujan yang lebih besar,” jelasnya.

‎Amson menambahkan, faktor curah hujan ekstrem dan topografi dataran rendah turut menjadi penentu utama dalam meningkatnya risiko banjir di berbagai wilayah. Kondisi ini menyebabkan air dengan mudah mengalir dan berkumpul di kawasan yang lebih rendah ketika hujan deras melanda.

‎“Umpamanya ada daerah curah hujan ekstrem, di satu sisi ada daerah yang dataran rendah, jadi airnya itu kan pasti mencari dataran yang lebih rendah. Walaupun sudah ada daerah prioritas, tidak menutup kemungkinan daerah lain itu bisa saja kena banjir dan longsor,” tambahnya.

‎Berdasarkan hasil kajian BPBD Sulsel, daerah rawan bencana di antaranya meliputi Makassar, Wajo, Luwu Utara, Gowa, dan Maros yang berisiko tinggi terhadap banjir dan banjir bandang.

‎Sementara itu, Luwu Timur, Luwu Utara, dan Enrekang teridentifikasi memiliki potensi gempa bumi dan tsunami. Adapun wilayah yang rawan tanah longsor mencakup Luwu, Palopo, dan Toraja Utara.

‎Untuk ancaman angin puting beliung, daerah Barru dan Maros menjadi kawasan yang perlu diwaspadai. Selain itu, potensi gelombang ekstrem dan abrasi pantai dapat terjadi di Takalar, Kepulauan Pangkep, serta Kepulauan Selayar,

‎Sementara Jeneponto, Sidrap, dan Wajo menghadapi ancaman kekeringan saat kemarau panjang.

‎Untuk menghadapi berbagai potensi tersebut, BPBD Sulsel telah menetapkan seluruh jajarannya dalam status siaga. Amson menyebut, berbagai langkah antisipatif telah dilakukan untuk memastikan kesiapan peralatan dan sumber daya di lapangan.

‎“Jadi sejak BMKG mengeluarkan rilis, semua jajaran BPBD di seluruh Sulsel itu sudah dalam status siaga. Sudah menempatkan peralatan kebencanaan di daerah, titik-titik lokasi yang rawan, yang selama ini sesuai peta bencananya,” lanjutnya.

‎Selain itu, BPBD juga menyiapkan jalur evakuasi dan logistik tambahan untuk mengantisipasi jika terjadi peningkatan eskalasi bencana di lapangan. Langkah ini dilakukan agar proses evakuasi dan distribusi bantuan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran ketika kondisi darurat terjadi.

‎”Menyiapkan jalur evakuasi apabila eskalasinya meningkat dan kita sudah menyiapkan buffer stock logistik di kabupaten kota,” pungkasnya.

‎Amson menegaskan, langkah kesiapsiagaan ini dilakukan untuk meminimalkan dampak kerugian serta memastikan masyarakat di daerah rawan bencana dapat terlindungi. Pemerintah provinsi, kata dia, terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota agar respon cepat dapat dilakukan bila terjadi bencana.

error: Content is protected !!
Exit mobile version