KabarMakassar.com — Ratusan Jamaah Masjid Agung Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), kecewa setelah Da’i kondang, Ustadz Das’ad Latief batal mengisi acara Tauziah Tabligh Akbar.
Batalnya kegiatan tersebut dikarenakan Ustadz Das’ad Latief ternyata tidak mempunyai jadwal ceramah dalam kegiatan tersebut.
Hal itu disampaikan secara langsung oleh Ustadz Das’ad Latief melalui keterangan resminya pada tayangan video berdurasi 51 detik.
Dalam pernyataannya, Ustazd Das’ad Latief tak menampik bahwa malam ini akan berkunjung ke ke Kabupaten Jeneponto. Akan tetapi, bukan dalam kegiatan Tabligh Akbar, melainkan acara Tauziah Manasik Haji.
“Betul acara malam ini saya di Jeneponto. Acaranya manasik Haji kawan dari kawan saya, kalau saya tidak salah namanya pak Anto Ijo, saya tidak tahu tapi kawannya kawan saya. Jadi tidak ada dalam jadwal acara saya di Masjid Agung Jeneponto,” Jelas Das’ad Latief, Jumat (9/5).
Ia pun memastikan jika informasi yang beredar ditengah-tengah Masyarakat saat ini dinilai keliru karena kegiatan Tabligh Akbar yang dijadwalkan oleh Panitia Masjid Agung Jeneponto tak pernah di agendakan sebelumnya.
Meski pun kesalahan tersebut dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab, akan tetapi Ustadz Das’ad Latief tetap merasa legowo menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh Masyarakat Kabupaten Jeneponto.
” Jadi kalau ada yang beredar mohon maaf itu diluar sepengatahuan saya. Saya hanya terjadwal malam ini jam 8 manasik Haji di rumah pak Anto Ijo tadi, tidak ada di Masjid Agung. Saya tidak bisa isi sebab perjalanan saya nanti lepas Maghrib baru saya bisa ke Jeneponto dan saat ini saya lagi ada acara di Makassar,” terang Ustazd Das’ad Latief.
Atas kekeliruan tersebut, Jamaah yang sempat membludak di dalam Masjid maupun di halaman parkir dengan penuh kekecewaan langsung membubarkan diri dengan penjagaan ketat dari aparat kepolisian.
Bahkan tak sedikit, para Jamaah merasa heran dengan informasi bohong yang disampaikan oleh pihak Masjid.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari panitia Masjid maupun oknum yang mengaku bertanggungjawab dalam kegiatan ini sehingga dinilai ada oknum-oknum tertentu yang ingin membuat kegaduhan di Kalangan Masyarakat.













