kabarbursa.com
kabarbursa.com

Pekan ini, IHSG Diproyeksi Melemah Menuju Level Psikologis 7.700

IHSG Dibuka Melemah 1,94 Persen, Simak Rekomendasi Saham dari 8 Sekuritas Hari Ini
Ilustrasi Saham (Dok : KabarMakassar).

KabarMakassar.com– Pada awal pekan ini, Senin (23/09), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahannya menuju level psikologis 7.700.

Penurunan ini mengikuti pelemahan yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya, di mana IHSG ditutup melemah cukup signifikan. Pada perdagangan Jumat (20/09) IHSG mengalami koreksi sebesar 2,05% dan ditutup di level 7.743,004, setelah sebelumnya bergerak dalam kisaran 7.738,321 hingga 7.910,866.

Penurunan ini mengakhiri pencapaian IHSG yang sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan intraday 19 September 2024 di 7.910,556. Meskipun sempat menyentuh level psikologis 7.900, IHSG terpaksa harus turun akibat berbagai tekanan pasar.

Penurunan IHSG diperkirakan akan terus berlanjut hingga IHSG menyentuh level psikologis 7.700 pada perdagangan hari ini.

Secara teknikal adanya death cross pada Stochastic Relative Strength Index (RSI) di area overbought, yang menunjukkan sinyal bearish. Selain itu, pola Bearish Engulfing juga terbentuk, yang biasanya menandakan potensi pembalikan arah ke tren bearish.

Faktor Eksternal Penggerak Pasar
Tekanan terhadap IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknikal, tetapi juga berbagai sentimen eksternal, terutama dari ekonomi global. Salah satu sentimen yang diantisipasi adalah rilis data S&P Global Composite PMI Flash untuk bulan September 2024 di Amerika Serikat (AS).

Data ini diharapkan turun ke level 53, dengan sektor jasa yang mengalami penurunan lebih signifikan ke level 54, sementara sektor manufaktur sedikit menunjukkan perbaikan di level 48. Pelemahan di sektor jasa AS memberikan sinyal bahwa ekonomi terbesar di dunia tersebut mungkin sedang mengalami tekanan yang lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.

Di Eropa, sentimen global juga diperkuat oleh data Euro Area HCOB Composite PMI Flash September 2024 yang dijadwalkan rilis pada hari yang sama. Data ini diprediksi akan stagnan di level 51. Berbeda dengan AS, sektor jasa di kawasan Eropa diperkirakan akan mengalami sedikit peningkatan ke level 53, sedangkan sektor manufaktur masih berada dalam zona kontraksi di level 45,6.

Kondisi ini mencerminkan bahwa perekonomian global masih dalam ketidakpastian, meskipun ada beberapa sektor yang menunjukkan perbaikan. Hal ini bisa menjadi penggerak signifikan terhadap IHSG di tengah fluktuasi sentimen pasar global

Data Domestik dan Pengaruhnya terhadap IHSG
Selain sentimen global, faktor domestik juga turut memengaruhi pergerakan IHSG di pekan ini. Salah satu faktor penting adalah rilis data pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) periode Agustus 2024, yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia (BI) pada Senin, 23 September 2024. Pada Juli 2024, M2 Indonesia tercatat tumbuh sebesar 7,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penyaluran kredit serta peningkatan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Pertumbuhan jumlah uang beredar di bulan Agustus 2024 diharapkan tetap stabil, terutama seiring dengan pertumbuhan penyaluran kredit yang diprediksi akan tetap berada di level dua digit, yaitu 11,4% YoY.

Sebagai informasi, pada Juli 2024, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat sebesar Rp8.970,8 triliun, yang tumbuh 7,4% YoY setelah tumbuh 7,7% YoY pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit yang meningkat 11,6% YoY pada Juli 2024, dibandingkan dengan pertumbuhan 11,4% pada Juni 2024.

Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni 15,8% YoY, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan Juni yang tercatat 14,1% YoY. Namun, aktiva luar negeri bersih mengalami kontraksi sebesar 0,1% YoY, setelah sebelumnya tumbuh 3,1% YoY pada Juni 2024.

Penurunan IHSG juga dipicu oleh pelemahan saham-saham dari grup konglomerasi milik Prajogo Pangestu. Saham-saham dari konglomerasi ini menjadi salah satu kontributor utama terhadap jatuhnya IHSG, meskipun sentimen positif muncul dari keputusan Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga.

Kenaikan suku bunga yang lebih moderat ini pada umumnya dianggap sebagai katalis positif bagi pasar saham, namun dalam kasus ini, pengaruh negatif dari pelemahan saham konglomerasi tersebut lebih dominan.

Selain itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga mengalami penurunan tajam. Pada perdagangan Jumat, 20 September 2024, saham BREN anjlok 19,95% dan ditutup di level Rp8.825 per lembar saham. Penurunan saham BREN ini sebagian disebabkan oleh pengumuman FTSE Russel yang akan menghapus saham BREN dari indeks mereka pada Rabu, 25 September 2024.

Penghapusan ini dilakukan karena saham BREN tidak memenuhi persyaratan free float, di mana empat pemegang saham utama mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan. Penghapusan ini memberikan tekanan tambahan pada IHSG dan menyebabkan sentimen negatif di pasar.

Secara keseluruhan, meskipun terdapat beberapa sentimen positif dari dalam negeri, IHSG diperkirakan masih akan mengalami volatilitas sepanjang pekan ini. Minimnya sentimen kuat dari dalam maupun luar negeri, serta ketidakpastian di pasar global, membuat pergerakan IHSG kemungkinan besar akan tetap berfluktuasi.

Rilis data ekonomi global serta laporan domestik terkait pertumbuhan uang beredar dan penyaluran kredit akan menjadi fokus utama para investor dalam mengambil keputusan di pasar saham.

Oleh karena itu, investor disarankan untuk berhati-hati dalam melakukan transaksi di pasar saham pekan ini, dengan memperhatikan sentimen global dan domestik yang akan memengaruhi IHSG secara keseluruhan.

error: Content is protected !!