kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Cegah Destructive Fishing, Pemkab Selayar Gelar FGD

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menggelar Focus Grup Discussion (FGD) tentang Penguatan Upaya Terpadu dalam Pemanfaatan, Perlindungan dan Pencegahan Ancaman Terhadap Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate di Swiss-Belhotel, Makassar, Rabu (25/05).

Kegiatan tersebut digelar bersama Balai Taman Nasional Taka Bonerate bekerjasama dengan Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) sebagai upaya peningkatan kolaborasi dalam melindungi dan mengelola sumber daya alam yang ada di Taman Nasional Taka Bonerate melalui penanggulangan praktik penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing).

Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Faat Rudhianto menyebut marak terjadi praktik penangkapan ikan yang merusak di kawasan perairan Taman Nasional Taka Bonerate.

Ia melanjutkan, sejumlah kasus destructive fishing terjadi di perairan Taman Nasional Taka Bonerate namun kasus tersebut semakin turun seiring dengan kesadaran para nelayan tangkap ikan.

Pihaknya mengaku tahun ini hanya ada terdapat satu kasus dimana tahun sebelumnya terdapat tiga kasus yang mengalami penurunan hingga 90 persen.

"Trennya sudah sangat berkurang tahun ini saja hanya satu kasus dibandingkan tahun lalu ada tiga kasus. Penurunannya sangat drastis 90 persen upaya kami menekan itu seiring dengan kesadaran para nelayan pulau," ungkapnya.

Menurutnya, saat ini dari tujuh pulau berpenghuni di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, tiga diantaranya masyarakat nelayan sudah sadar terkait praktik penangkapan ikan yang merugikan dan masih tersisa empat pulau yang masih menggunakan kapal tangkap ikan yang merugikan.

"Kan ada tujuh pulau yang berpenghuni, tiga itu sudah sadar sisa empat yang masih ada kapal disana," sambungnya.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Makkawaru menyebut FGD kali ini membahas upaya pencegahan destructive fishing dengan mengidentifikasi titik rawan, modus terkini pelaku dan upaya penegakan hukumnya.

Selanjutnya, para peserta FGD merumuskan dan merekomendasikan implementasi Rencana Aksi Daerah (RAD) terkait pengawasan dan penanganan kegiatan penangkapan ikan yang merusak menuju perikanan ramah lingkungan.

"Dalam implementasinya, RAD memerlukan keterlibatan dan kolaborasi berbagai pihak terkait konservasi kawasan Taman Nasional Taka Bonerate dan pengelolaan sumber daya alam termasuk perikanan dan perairan," pungkasnya .

Diketahui Perairan Taka Bonerate merupakan rumah bagi atol (pulau karang yang berbentuk cincin) terbesar ketiga di dunia berdasarkan UNESCO dengan luas area mencapai 220.000 hektar dengan ekosistem terumbu karang yang menyebar luas lebih dari 500 kilometer persegi.

Selain itu kawasan Taman Nasional Taka Bonerate juga telah ditetapkan menjadi Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO pada tahun 2015 silam dalam program 'Man and Biosphere'.

Pihaknya pun berharap kegiatan FGD penanggulangan destructive fishing menjadi upaya kolaboratif dengan menghadirkan strategi yang efektif dalam upaya penanggulangan terhadap perairan Taka Bonerate yang memiliki kekayaan melimpah dan potensi perikanan yang besar dari ancaman penangkapan ikan yang merusak termasuk penggunaan bahan peledak, bom, racun, penggunaan alat bantu penangkapan ikan dan pengoperasian pukat cincin.

error: Content is protected !!