kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Tanah Alami Pergeseran, 80 KK di Kampung Ratte Mengungsi

KabarMakassar.com  — Terjadi pergeseran tanah di Kampung Ratte, Desa Suppirang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Akibatnya, 80 kepala keluarga (KK) setempat harus mengungsi.

Informasi yang dihimpun tanah yang mengalami pergeseran (retak) sejauh 2 kilometer dengan kedalaman hingga 1,5 meter akibat hujan dan kondisi tanah yang labil.

"Kejadiannya sebenarnya sudah beberapa hari lalu, cuman pas kemarin cukup parah," kata Rober warga setempat, Selasa (10/05).

"Tanahnya retak sekitar 2 kilometer keliling kampung," sambungnya. 

Ia mengatakan kondisinya belakangan ini memang terjadi hujan. Selain itu juga kondisi tanah cukup labil. Atas peristiwa itu dirinya dan sejumlah warga harus mengungsi tempat yang aman.

"Sementar kami cari tempat yang aman dulu. Karena banyak rumah yang terdampak retakan tanah," ungkapnya.

Sementara itu, Camat Lembang, Muhammad Yusuf Nur membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan sejauh ini warga setempat tengah diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Tanah retak sepanjang 2 kilometer dengan kedalaman hingga 1 meter terjadi di Kampung Ratte, Desa Suppirang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Akibatnya, 80 kepala keluarga (KK) kini sementara dievakuasi.

"Iye, Terjadi pergeseran (retak) tanah di satu kampung di Desa Suppirang. Kondisi sudah sangat parah. Kami sementara evakuasi semua warga di situ," ujar Camat Lembang, Muhammad Yusuf Nur, Selasa (10/5).

Yusuf menjelaskan kondisi retakan tanah mencapai sepanjang 2 kilometer dengan lebar hingga 30 cm dan kedalaman lebih dari 1 meter. 

Tak hanya itu, jelas Camat Lembang. Rumah warga dan satu sekolah dasar ikut mengalami kerusakan akibat lantai dasar bangunan mengalami keretakan.

"Sudah zona merah. Banyak rumah warga terdampak, makanya harus segera dievakuasi supaya tidak ada korban jiwa," jelasnya.

Yusuf mengungkapkan sudah ada sekitar 20 KK yang mengungsi sementara ke kebun mereka. Hal tersebut untuk mencegah terjadinya longsor yang dapat membahayakan keselamatan mereka.

"Ada sekitar 80 KK. Itu rencana kami mau evakuasi semua. Kita evakuasi di zona aman di kebun dan rumah kerabat mereka," jelasnya.

Pihaknya mengaku kondisi tanah terbelah sudah terjadi mulai dua pekan yang lalu. Sejauh ini aparat desa terus melakukan pengawasan.

"Sudah dua minggu lalu muncul retakan tanahnya, kami baru dikabarkan tadi sehingga baru kami ikut cek. Baru sepekan ini membesar retakannya apalagi intensitas hujan cukup tinggi sepekan ini," paparnya.

Yusuf mengaku pihaknya telah melaporkan kejadian ini kepada Bupati Pinrang, BPBD, Dinsos agar dapat segera menuju lokasi. Sebab, warga yang mengungsi butuh bantuan logistik.

"Kami sudah lapor ke pimpinan dan BPBD serta Dinsos agar menuju lokasi dan memberikan bantuan logistik ke warga," pungkasnya.

error: Content is protected !!