KabarMakassar.com — Warga Kota Makassar keluhkan kelangkaan LPG 3 kilogram (kg) di sejumlah wilayah.
Di tengah sulitnya mendapatkan gas bersubsidi tersebut, warga menyebut masih menemukan penjual yang menawarkan LPG 3 kg dengan harga hingga Rp30 ribu per tabung.
Salah seorang warga Makassar, Majid, mengatakan dirinya sempat mendapatkan dua tabung LPG 3 kg dengan harga Rp25 ribu per tabung. Namun, ia juga menemukan penjual yang menawarkan dengan harga lebih tinggi.
Menurut Majid, penjual LPG tersebut ditemui saat dirinya melintas dari kawasan Batua menuju Toddopuli.
“Sampai Batua, masuk Toddopuli ada penjual, saja tanya ada gas ta Pak. Penjual jawab kalau dia punya dua tabung, tadi malam di ambil dua, saya dapat Rp25 ribu. Kalau kita mau Rp30 ribu, ambil maki, tapi agak mahal menurut Saya jadi cari ditempat lain di Jalan Meranti saya dapat Rp21.000,” ujar Majid, Senin (07/09).
Ia menyebut kondisi tersebut menunjukkan LPG 3 kg sebenarnya masih ditemukan di lapangan, namun warga harus mencari ke sejumlah lokasi dan menghadapi perbedaan harga.
Harga Rp30 ribu per tabung yang disebut warga tersebut berada di atas harga LPG 3 kg yang semestinya diterima masyarakat sesuai ketentuan harga eceran yang berlaku.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Kota Makassar, Basdir. Ia mendesak Pemerintah Kota Makassar bersama Pertamina segera turun tangan memastikan ketersediaan LPG di tengah masyarakat.
Basdir mengatakan kelangkaan LPG semakin membebani masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada LPG 3 kg untuk menjalankan usaha.
“Kasihan masyarakat, utamanya pelaku usaha UMKM yang memang membutuhkan LPG tabung melon itu. Sekarang listrik pemadaman bergilir, BBM langka, LPG lagi yang langka. Ini tidak bisa dibiarkan,” kata Basdir.
Ia meminta kelangkaan tersebut segera ditelusuri untuk memastikan tidak ada praktik penimbunan atau permainan spekulan di tingkat distribusi.
Basdir mengaku menerima sejumlah laporan masyarakat yang menyebut LPG masih bisa diperoleh jika pembeli bersedia membayar dengan harga lebih tinggi.
“Banyak laporan dari masyarakat, katanya kalau bersedia bayar lebih, ada stok. Ini aneh. Indikasinya besar sekali bahwa terjadi penimbunan atau ada spekulan yang bermain,” ujarnya.
Menurut dia, jika informasi tersebut benar, kondisi itu sangat merugikan masyarakat. Karena itu, Basdir meminta Dinas Perdagangan Kota Makassar berkoordinasi dengan Pertamina melakukan pengawasan dan penelusuran terhadap rantai distribusi LPG.
“Saya mendesak pemerintah kota, khususnya Dinas Perdagangan, untuk melakukan operasi pasar. Operasi pasar tentunya berkoordinasi dengan Pertamina,” katanya.
Basdir juga meminta Pertamina mengambil langkah konkret, bukan hanya dalam menangani kelangkaan LPG, tetapi juga persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM).
Ia menyoroti antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang menurutnya berlangsung panjang dan berulang. Antrean tersebut bahkan terjadi pada siang hingga malam hari dan berpotensi mengganggu arus lalu lintas.
“Masa antreannya setiap hari mengekor seperti ular dan membuat macet. Mau siang, mau malam, subuh, antreannya panjang. Sekarang LPG juga langka. Ini kasihan masyarakat,” ujarnya.
Basdir mengaku memahami bahwa kondisi energi dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk gejolak internasional. Namun, ia menilai kondisi di lapangan perlu mendapat perhatian serius dan tidak semestinya berlangsung berlarut-larut.
“Kita paham bahwa ada gejolak internasional, perang yang terjadi kemudian ada dampaknya. Tetapi kan tidak separah ini juga menurut saya. Ini kacau sekali,” katanya.
Ia mengingatkan kelangkaan BBM dan LPG dapat berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Kenaikan biaya energi, kata dia, dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok dan menekan pelaku usaha.
“Sejak saya mahasiswa sampai hari ini, setiap terjadi kenaikan harga BBM, itu juga berdampak kepada kenaikan harga bahan pokok. Dampaknya lagi banyak PHK. Ini kasihan masyarakat kita. Kita sudah miskin, tambah miskin lagi masyarakat kita,” tutur Basdir.
Menurut Basdir, pemerintah bersama Pertamina harus segera melakukan langkah luar biasa untuk memastikan pasokan energi tersedia dan distribusinya berjalan dengan baik.
Ia juga mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan masyarakat menjadi korban permainan pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kelangkaan barang kebutuhan dasar.
“Kita tidak ingin masyarakat kita dibodoh-bodohi dan dipermainkan oleh spekulan, oleh pebisnis atau pengusaha besar yang bermain-main terhadap kelangkaan ini. Ini penzaliman namanya kalau seperti itu,” tegasnya.
Basdir bahkan mengkhawatirkan persoalan energi yang tidak segera ditangani dapat memicu persoalan sosial yang lebih luas, terutama jika berdampak pada meningkatnya pengangguran dan tekanan ekonomi masyarakat.
“Kalau orang pengangguran, bahan pokok naik, kriminal meningkat, begal terjadi di mana-mana, pencurian terjadi, macam-macamlah efeknya kalau ini dibiarkan terlalu lama dan berlarut-larut,” katanya.
Karena itu, Basdir kembali meminta Pemkot Makassar, Dinas Perdagangan, dan Pertamina segera melakukan pengawasan di lapangan, memastikan pasokan LPG dan BBM tersedia, serta menelusuri dugaan permainan dalam distribusinya.
“Kita harus melakukan upaya-upaya bersama untuk menelusuri itu. Masyarakat kita susah sekali. Jangan sampai ada yang miskin semakin miskin, sementara yang kaya semakin kaya,” tukasnya.













