KabarMakassar.com — Anak yang kerap membantah atau sulit diarahkan tidak selalu harus dihadapi dengan teguran keras.
Cara orang tua berkomunikasi, termasuk ekspresi wajah dan bahasa tubuh, dinilai turut memengaruhi respons anak.
Hal itu menjadi pemateri materi yang disampaikan Muhammad Radiyal Musyaa saat mengisi pertemuan orang tua murid Sekolah Islam Mafaaza di Borongloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sabtu (29/08).
Dalam kegiatan yang mengangkat tema “Rahasia Hypnoparenting: Teknik Sugesti Positif untuk Membentuk Anak Lebih Penurut dan Percaya Diri”, Radiyal menekankan pentingnya memperhatikan data atau pesan yang terus diterima anak dari lingkungan terdekatnya.
Menurutnya, pola komunikasi kepada anak bukan hanya melalui ucapan. Sikap, ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh orang tua juga menjadi bagian penting dalam proses komunikasi.
“Orang akan memutuskan, memilih, bertindak sesuai data yang ia masukkan,” kata Radiyal dalam pemaparannya.
Ia kemudian mengajak para orang tua memahami bahwa anak dapat menangkap pesan bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat.
“Yang paling mempengaruhi anak adalah sunyinya, bukan bunyi. Apa yang dia lihat, bukan apa yang dia dengar,” ujarnya.
Radiyal menggambarkan wajah sebagai salah satu bagian penting dalam komunikasi manusia. Menurut dia, ekspresi wajah dapat menjadi pesan nonverbal yang ditangkap orang lain, termasuk anak.
“Wajah adalah monitor utama manusia berkomunikasi,” katanya.
Karena itu, ia mendorong orang tua membangun kebiasaan memberikan ekspresi positif di hadapan anak. Salah satu contoh yang diberikan adalah membiasakan tersenyum ketika berinteraksi.
Dalam sesi tersebut, para peserta juga diajak mempraktikkan teknik senyum “225”, yakni tersenyum dengan menarik bibir ke kiri dan kanan selama lima detik.
Radiyal mengaitkan kebiasaan tersenyum dengan suasana emosional dalam keluarga. Ia meminta orang tua tidak menjadikan komunikasi dengan anak hanya berisi perintah, larangan, atau teguran.
“Kalau anda senyum terus, ada zat di otak, namanya zat endorfin. Kalau anda terus senyum maka akan membludak itu zat kebahagiaan dalam diri kita,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan perbedaan komunikasi verbal dan nonverbal. Menurutnya, pesan yang disampaikan melalui suara dapat bertentangan dengan bahasa tubuh sehingga orang justru menangkap pesan dari ekspresi atau gerakan tubuh.
“Bukan cuma suara saja atau bunyi. Tapi ada yang lebih berat dari suara, atau body language. Ada bahasa verbal, ada bahasa nonverbal,” ujarnya.
Dalam konteks pengasuhan, Radiyal mengingatkan orang tua agar memperhatikan perilaku dan ekspresi mereka ketika berhadapan dengan anak. Ia menilai kebiasaan orang tua menjadi bagian dari lingkungan yang terus direkam dan diterima anak.
Materi hypnoparenting tersebut disampaikan dalam kegiatan silaturahmi dan pertemuan orang tua murid Sekolah Islam Mafaaza yang berlangsung mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai.
Melalui pendekatan sugesti positif, orang tua diajak membangun komunikasi yang lebih sadar agar pesan yang diterima anak tidak hanya berupa perintah, tetapi juga memberikan dorongan terhadap rasa percaya diri dan pembentukan perilaku positif.













