KabarMakassar.com — Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi perdagangan saham yang dinilai sepi akhir-akhir ini.
Dimana sepinya perdagangan turut di indikasikan dengan posisi jual bersih investor asing besar-besaran tahun 2026.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan, jika saat ini kondisi pasar dipengaruhi oleh ketidakpastian atas aktivitas ekonomi global.
“Keterkaitan antara politik dengan keputusan investasi juga kian berkurang. Tren Indonesia juga kini begitu dan telah berlangsung lama” terangnya, Senin (13/07).
Dinamika global, kata Jeffrey, sejak awal tahun lebih banyak memengaruhi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Beberapa dinamika yang terjadi, mulai dari perang dagang hingga arah suku bunga tinggi. Yang mana memiliki dampak langsung atas pergerakan di pasar,” jelasnya.
Pergerakan IHSG atau keputusan investor, nilai Jeffrey, tidak tepat apabila hanya dikaitkan dengan pidato atau arah kebijakan Presiden Republik Indonesia.
“Jika dikaitkan seperti itu, saya rasa tidak terlalu tepat. Karena, di setiap keputusan investasi pasti ada rasional ekonominya,” jelasnya.
Sementara itu, investor asing mencatatkan posisi net sell sekitar Rp1,68 triliun di pasar reguler sepanjang pekan lalu. Sementara itu, awal tahun 2026 ini posisi net sell tersebut tembus Rp90,59 triliun.













