KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mendorong penggunaan data gizi sebagai dasar dalam mempercepat upaya pencegahan stunting. Pemanfaatan data disebut penting agar program gizi yang dijalankan lebih terarah dan berdampak nyata.
Dorongan ini disampaikan dalam lokakarya bertema “Komitmen untuk Gizi: Dari Bukti Menuju Dampak” yang berlangsung di Kantor Gubernur Sulsel, baru-baru ini.
Kegiatan ini melibatkan kementerian/lembaga nasional serta seluruh pemerintah kabupaten/kota se-Sulsel untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam penanganan stunting dan malnutrisi.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr. Ishaq Iskandar, yang mewakili Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi, menekankan pentingnya konversi data menjadi keputusan dan aksi di tingkat lokal.
“Data tidak boleh berhenti di laporan, tapi harus menjadi dasar keputusan dan langkah nyata. Kepemimpinan di tingkat daerah sangat menentukan keberhasilan program gizi,” ujar Ishaq.
Lokakarya ini juga mengedepankan penggunaan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (Stranas P3S) 2025–2029 sebagai referensi utama dalam penyusunan kebijakan dan program gizi daerah.
Kepala Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi dan Maluku, Henky Widjaja, mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tiga beban masalah gizi yang saling berkaitan, yakni stunting, obesitas, dan kekurangan zat gizi mikro.
“Ketiga masalah ini tidak hanya mengancam tumbuh kembang anak, tetapi juga berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia, sehingga diperlukan kolaborasi dan komitmen bersama untuk program gizi yang efektif,” kata Henky.
Direktur Jenewa Institute, Surahmansah Said, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan daerah dalam menganalisis data dan menyelaraskan kebijakan nasional dengan kebutuhan lokal.
“Lokakarya ini bertujuan memperkuat kapasitas daerah dalam memanfaatkan data, menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah, serta mengimplementasikan strategi nasional pencegahan stunting secara kolaboratif,” ujarnya.
Selain sesi panel dan diskusi kelompok, lokakarya ini menghasilkan komitmen dari para pimpinan daerah untuk menyusun dokumen analisis data, rencana aksi lintas sektor, dan pembagian peran hingga 2030.
Topik lain yang turut dibahas adalah intervensi gizi di sekolah dan penguatan komunikasi perubahan perilaku.
Upaya ini diharapkan dapat membangun dasar yang kuat bagi pelaksanaan program gizi terintegrasi dan berkelanjutan di Sulsel, dengan menjadikan data sebagai alat penggerak kebijakan dan tindakan di lapangan.













