KabarMakassar.com — Pemerintah Kota Makassar melalui Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) terus mendorong upaya konkret dalam pencegahan stunting.
Salah satunya dengan menggelar sosialisasi program Rumah Gizi yang melibatkan seluruh kepala puskesmas dan petugas gizi dari 47 puskesmas se-Kota Makassar.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sipakatau, Balai Kota Makassar, Selasa (24/06), menghadirkan dua narasumber utama, yakni dokter ahli gizi masyarakat Dr. dr. Tan Shot Yen, dan Kepala Puskesmas Kaluku Bodoa, dr. Rudy Lautan.
Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, menyampaikan bahwa rumah gizi menjadi salah satu strategi penting untuk mempercepat penurunan angka stunting. Menurutnya, puskesmas memegang peran sentral sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, sehingga perlu terus diperkuat dari sisi kapasitas dan wawasan para tenaga kesehatan.
“Rumah gizi bukan sekadar tempat intervensi gizi, tapi pusat edukasi keluarga. Kita harus perkuat kemampuan kader dan petugas lapangan agar bisa menyampaikan informasi secara benar dan efektif,” ujar Melinda.
Ia menegaskan bahwa stunting tidak hanya disebabkan kekurangan asupan nutrisi, tapi juga akibat minimnya edukasi yang diterima oleh keluarga. Oleh karena itu, sinergi antara puskesmas, posyandu, dan kader PKK menjadi sangat krusial.
“Makassar memiliki ribuan kader dan posyandu. Kita harus pastikan mereka memiliki bekal yang cukup untuk memberi pendampingan kepada keluarga, terutama ibu hamil dan balita,” lanjutnya.
Melinda juga mengingatkan pentingnya keterlibatan aktif kepala puskesmas dalam membina wilayahnya. Meskipun dibebani tugas administratif, ia berharap pelayanan langsung ke masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
“Kolaborasi adalah kunci. Mari bergotong royong menghadirkan generasi Makassar yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas,” tegasnya.
Sementara itu, dr. Tan Shot Yen dalam pemaparannya menjelaskan pentingnya pemantauan status gizi sejak dini, terutama dalam periode emas 1.000 hari pertama kehidupan. Ia memberikan pelatihan membaca grafik pertumbuhan anak dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), termasuk pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan indeks massa tubuh (IMT).
Ia juga membagikan tips kepada para kader posyandu untuk mendorong partisipasi ibu dalam pemantauan gizi anak. “Berikan pujian dan dukungan emosional. Jangan hanya fokus pada angka. Pendekatan yang ramah akan membuat ibu lebih nyaman dan mau kembali ke posyandu,” jelasnya.
dr. Tan turut mengapresiasi kepemimpinan Melinda Aksa yang dinilainya mampu memadukan gerakan masyarakat dengan strategi program yang inovatif dan berkelanjutan.
“TP PKK di bawah Bu Melinda sangat aktif dan progresif. Ini menjadi contoh baik bagaimana program pemberdayaan keluarga bisa berdampak luas,” ujarnya.
Narasumber kedua, dr. Rudy Lautan, membagikan praktik baik rumah gizi yang telah berjalan di wilayah Kaluku Bodoa, Kelurahan Panampu. Ia menyebutkan bahwa rumah gizi tidak hanya berfungsi sebagai tempat layanan tambahan gizi, tapi juga ruang pembelajaran keluarga.
“Di sana kami buat menu lokal untuk balita kurang gizi, berikan makanan tambahan untuk ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), dan rutin adakan edukasi gizi untuk masyarakat,” terang dr. Rudy.
Sosialisasi ini berlangsung interaktif, diwarnai dengan diskusi dan tanya jawab yang antusias dari peserta. Mereka membahas tantangan pelaksanaan rumah gizi dan peran penting posyandu dalam menjangkau keluarga secara langsung.
Melalui kegiatan ini, TP PKK Makassar berharap seluruh unsur layanan kesehatan di tingkat puskesmas mampu memaksimalkan potensi rumah gizi dalam upaya menurunkan prevalensi stunting di Kota Makassar secara berkelanjutan.















