KRS Online [unswagati.ac.id]

Makassar— Terkait persoalan penyebaran informasi yg di sampaikan birokrasi bagian kemahasiswaan Fakultas Psikologi Indonesia Timur menuai ketakutan di kalangan mahasiswa berbagi desakan dan tuntutan yg harus di penuhi salah satunya yaitu terkait persolan kebijakan baru pengurusan KRS online yg hanya diberikan batas waktu sampai tanggal 6 Maret 2017, khususnya di Fakultas Psikologi Indonesia Timur mencermati rasa takut mahasiswa  yang berlebihan ,mahasiswa merasa seperti terbungkam dengan rasa segan memenuhi ubun-ubun sehingga tak mampu berkata apa-apa ketika kebijkn baru yg dikeluarkan birokrat kampus.

Ini membuktikan bahwa mahasiswa masih dipandang sebelah mata. Keadaan ini terjadi karena mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka kaum independen. Independensi berarti bebas, bisa dikatakan bahwa independensi adalah sikap dimana mahasiswa bebas dari cengkeraman birokrat.

Dalam arti, mahasiswa punya kebebasan berpikir dan berkreasi. Ide atau gagasan mahasiswa tidak boleh ditundukkan oleh gelar atau jabatan para birokrat. Tetapi sebaliknya, kehadiran para birokrat semestinya menjadi pendorong sekaligus pemberi semangat bagi yang muda untuk berkarya dan mengembangkan sayap, mahasiswa harus bisa melihat dirinya.

Dengan bermodalkan kecerdasan, kreativitas, serta militansi, posisi mahasiswa begitu kencang membawa angin perubahan. Sayangnya, ketiga poin itu runtuh seketika. Kekuatan itu justru terkunci, bahkan rontok digusur rasa takut ketika independensi mahasiswa dikesampingkan. Independensi bukan sekedar bebas berekspresi fisik, tetapi pada tataran pikiran kebebasan itu patut dinikmati.

Fuad Akbar Maulana selaku Ketua BEM Psikologi siap mengawal kebijakan yg dikeluarkan oleh dekan bagian kemahasiaan dan akan memboikot fakultas ketika ada mahasiswa yang dinyatakan cuti karena persoalan KRS online, harusnya birokrasi kampus juga sadar bahwa keterlambatan pengurusan online disebabkan karena kewajiban tidak sesuai dengan hak lagi pula waktu yang di berikan birokrasi kampus sangat cepat sehingga mahasiswa yang ada di kampung kurang mengetahui batas pengurusan KRS online.

Maka dari itu kami selaku pengurus BEM siap mengawal mahasiswa psikologi terkait kebijakan yg di keluarkan oleh birokrasi kampus. Lanjut kebebasan memeliharakan pikiran dengan membiasakannya seliar mungkin melanglang buana mencari gagasan harus dipelihara. Dan hal itu perlu disadari oleh semua orang, termasuk birokrasi. Karena tanpa pengakuan atas indepensi mahasiswa, harapan perubahan sulit diwujudkan. Sebab mahasiswa adalah insan kreatif yang butuh berekspresi.

Lantas, bagaimana menganulir cengkraman kampus itu? Jawabanya: Kita perlu sadar, sadar akan hak dan tanggung jawab.

1. Konfirmasi yang di berikan pihak kampus bahwa ketika lewat dari tanggal 6 maka mahasiswa yang belum bayar KRS di anggap cuti.
2. Di perkirakan mahasiswa psikologi berjumlah puluhan yang akan di anggap cuti belum dari fakultas lain yang jumlah mahasiswanya ratusan.
3. Dampak dari kebijakan ini adalah mahasiswa yang belum mengurus KRS online akan di katakan cuti dan ini sangat mengecewakan mahasiswa dan bisa jadi jumlah mahasiswa yg di UIT akan berkurang.
4. Kalau saya dari pihak BEM psikologi sendiri saya meminta kebijaksanaan bagi teman-teman yang belum mengurs KRS online di perpanjang waktunya dan untuk kedepannya sosialisasi KRS online ini di sosialisasikan lebih awal atau sebelum menjelang final oleh pihak fakultas.

Penulis : Fuad Akbar Maulana
Ketua BEM Psikologi UIT periode 2016-2017
Editor : Amel

1 COMMENT

  1. Berdasarkan data terakhir di FPsi, 7/3, jumlah mah FPsi yg belum mrmbayar DPP dan KRS hingga batas akhir pembayaran sebanyak 19 orang. Menanggapi keluhan dan kecemasan mah tsb. Dekan FPsi sdh menyampaikan surat u perpanjangan jadwal pembayaran dan KRS ke Rektor disertai tembusan ke Ketua Yysn, Ketua BPH, dan Badan Pengawas. Berbarengan dgn itu, rupanya memang sdh direncanakan u perpanjangan jadwal, seperti yg sdh kita ketahui, pembayaran sd 14/3, KRS 15-17/3. Jadi kalau ada persoalan u kebaikan dan kemajuanbersama, debaiknya dilakukan dgn cara yg santun dan beradab sbg insan akademis, mohon maaf dan doanya, salama’ki tapada salama.

LEAVE A REPLY