[cpps.ugm.ac.id]

Sinjai, KabarMakassar.com– Koordinator Provinsi Sulsel ILO Promote, Rasyidi Bakry diundang oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Selatan (UPT Bone, Watampone) sebagai narasumber dalam rangkaian kegiatan Program Pengurangan Pekerja Anak Dalam Rangka Mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH) Tahun 2017. Kegaitan berlangsung di Kota Watampone dan Sinjai pada tanggal 16 – 17 Mei 2017.

Di Watampone kegiatan diikuti oleh sekitar 180 orang pekerja anak bertempat di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Loka Latih Kerja Usaha Kecil Menengah (LLK-UKM) Kabupaten Bone. Sinjai, bertempat di Wisma Hawai, kegiatan serupa diikuti oleh sekitar 120 pekerja anak.

Dalam presentasinya, lebih awal Rasyidi menjelaskan tentang perbedaan defenisi “pekerja anak” yang bekerja layaknya seperti orang dewasa dan “anak yang bekerja” atau anak melakukan pekerjaan karena membantu orangtua dan merupakan bagian dari proses belajar. Selanjutnya, dijelaskan tentang bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak, dimana bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) termasuk di dalamnya.

Baca Juga:  PMI Siap Bantu Korban Banjir Bulukumba dan Sinjai

Peserta diminta untuk menceritakan pengalamannya sebagai pekerja anak dan apa yang menyebabkan mereka terpaksa harus bekerja. Dari sesi tersebut, diketahui ada banyak cerita pilu yang dialami. Salah seorang anak yang menjadi peserta, Ita (15), mengaku bekerja di tempat foto copy dari pukul 8 pagi sampai pukul 10 malam. Ironisnya dia hanya diupah sebanyak Rp500 Ribu per bulan.

Lain halnya Lina (15) salah seorang pekerja anak di Sinjai, terpaksa harus berhenti sekolah dan harus bekerja sebagai buruh pabrik, karena harus membantu orang tua dan empat orang adik-adiknya yang masih kecil.

Baca Juga:  2.000 Supir dan Buruh Buka Puasa Akbar di Pelabuhan

Selain masalah ekonomi, beberapa anak juga mengemukakan alasan tidak lagi melanjutkan sekolah karena sudah merasa nyaman bisa mencari uang sendiri. Namun ada juga yang karena diminta untuk membantu orang tua yang bekerja sebagai nelayan atau tukang bangunan.

Menanggapi cerita dari peserta, Rasyidi kemudian menjelaskan bahwa, saat ini hampir tidak ada alasan bagi anak untuk tidak lagi melanjutkan pendidikan apalagi dengan alasan ekonomi. Karena pemerintah telah menyediakan berbagai program untuk memastikan setiap anak bisa mendapatkan haknya atas pendidikan. Untuk itu diharapkan setelah kegiatan, semua anak bisa kembali bersekolah atau mengikuti program pendidikan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Penulis : Muh Rasyidin
Editor : Marwah

LEAVE A REPLY