kabarbursa.com
kabarbursa.com

Rupiah Diprediksi Fluktuatif di Tengah Optimisme Ekonomi dan Sentimen Global

Rupiah Tak Berdaya Usai Rilis Data AS dan Penurunan BI-Rate
Ilustrasi Rupiah (Dok : KabarMakassar).
banner 468x60

KabarMakassar.com — Rupiah ditutup menguat pada perdagangan terakhir, Rabu (10/07) kemarin, menyentuh level Rp16.240,5 per dolar AS, meningkat 10,50 poin atau 0,06% dari penutupan sebelumnya. Penguatan ini terjadi meski dolar AS juga menunjukkan kenaikan, dengan indeks dolar AS naik 0,01% ke posisi 105,14. Sebelumnya, rupiah sempat dibuka pada level Rp16.290 per dolar AS.

Bank Indonesia melaporkan bahwa kinerja penjualan eceran pada Juni 2024 diperkirakan meningkat baik secara tahunan maupun bulanan. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat 232,8, tumbuh 4,4% year-on-year (YoY), meningkat dari 2,1% YoY pada April 2024. Secara bulanan, penjualan eceran tumbuh 2,1% month-to-month (MtM) setelah terkontraksi 3,5% pada bulan sebelumnya.

Pemprov Sulsel

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan mengalami fluktuasi pada perdagangan hari ini Kamis (11/07).

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.190 hingga Rp16.280 per dolar AS, dengan kemungkinan penguatan.

Peningkatan penjualan eceran dipicu oleh pertumbuhan di beberapa sektor. Kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya naik 0,8% YoY, sub kelompok sandang naik 5,6% YoY, dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau tumbuh 5,1% YoY. Namun, kelompok barang budaya dan rekreasi serta peralatan informasi dan komunikasi mengalami kontraksi, masing-masing turun 5,9% dan 4,3% YoY, meski menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Sentimen Global: Komentar The Fed dan Inflasi AS

Ibrahim menilai bahwa sentimen global, terutama komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell, berperan penting dalam pergerakan rupiah. Powell menyatakan kekhawatiran tentang dampak suku bunga tinggi yang berkepanjangan terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Meskipun inflasi AS telah melandai, Powell menegaskan komitmen The Fed terhadap target inflasi 2%, tanpa memberikan petunjuk jelas kapan suku bunga akan diturunkan.

Ekspektasi pasar menunjukkan mayoritas pedagang memperkirakan penurunan suku bunga The Fed pada September, terutama setelah kesaksian Powell. Data inflasi indeks harga konsumen yang dirilis pada Kamis ini juga diharapkan menunjukkan penurunan inflasi di bulan Juni, meskipun sedikit. Hal ini menambah keyakinan bahwa dolar AS akan tetap kuat dalam waktu dekat.

Di Asia, data inflasi indeks harga produsen Jepang menunjukkan inflasi pabrik meningkat pada bulan Juni, namun masih relatif lemah. Hal ini menambah keraguan apakah Bank of Japan akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya.

Sementara itu, di Indonesia, Bank Indonesia melaporkan peningkatan ekspektasi penjualan untuk Agustus dan November 2024. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk kedua bulan tersebut masing-masing tercatat sebesar 158,8 dan 146,1, lebih tinggi dari periode sebelumnya.

Berdasarkan sentimen domestik dan global, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif, namun tetap menunjukkan potensi penguatan. Rentang pergerakan rupiah diprediksi antara Rp16.190 hingga Rp16.280 per dolar AS pada perdagangan Kamis ini. Optimisme terhadap ekonomi domestik, didukung oleh peningkatan kinerja penjualan eceran dan ekspektasi positif terhadap kebijakan moneter global, menjadi faktor pendorong utama penguatan rupiah.

Dengan demikian, investor dan pelaku pasar diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini dengan strategi yang tepat untuk mengoptimalkan keuntungan dari pergerakan nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (11/7). Dibuka di level Rp16.215 per dolar AS, rupiah spot mengalami kenaikan sebesar 0,16% dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.241 per dolar AS.

Tidak hanya rupiah, hampir seluruh mata uang di Asia juga mengalami penguatan. Hingga pukul 09.00 WIB hari ini, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan ini, melonjak sebesar 0,3%. Won Korea Selatan mengikuti dengan kenaikan 0,29%.

Ringgit Malaysia juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 0,17%, diikuti oleh peso Filipina yang menguat 0,1%. Dolar Singapura dan yen Jepang sama-sama naik 0,07%, sementara dolar Taiwan terapresiasi 0,06%. Yuan China dan dolar Hong Kong juga menguat tipis sebesar 0,03% terhadap dolar AS.

Penguatan rupiah sejalan dengan tren positif yang terjadi di pasar mata uang Asia. Kenaikan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk stabilitas ekonomi domestik, sentimen positif dari pasar global, serta kebijakan moneter yang proaktif dari Bank Indonesia.

Selain itu, optimisme terhadap pemulihan ekonomi global pasca-pandemi dan kebijakan suku bunga yang lebih stabil dari The Fed turut berkontribusi pada penguatan mata uang regional. Komentar terbaru dari Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menunjukkan kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi yang berkepanjangan, juga memberikan sentimen positif bagi pasar mata uang.

Dengan tren penguatan yang terlihat pada perdagangan pagi ini, rupiah diharapkan dapat mempertahankan stabilitasnya dan terus menguat terhadap dolar AS. Dukungan dari faktor eksternal seperti pemulihan ekonomi global dan kebijakan moneter yang akomodatif akan menjadi kunci dalam menjaga momentum positif ini.

Investor dan pelaku pasar akan terus memantau perkembangan lebih lanjut dari kebijakan moneter global serta data ekonomi domestik yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah ke depan. Dengan optimisme yang ada, rupiah diharapkan dapat terus menguat dan memberikan manfaat bagi stabilitas ekonomi Indonesia.

harvardsciencereview.com
https://inuki.co.id