kabarbursa.com
kabarbursa.com

BI Sulsel dan TPID Genjot Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga

BI Sulsel dan TPID Genjot Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga
Ilustrasi Inflasi (Dok : KabarMakassar).
banner 468x60

KabarMakassar.com – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi guna menjaga inflasi tetap terkendali sepanjang 2025.

Upaya ini mengacu pada kerangka 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Pemprov Sulsel

Kepala BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menjelaskan bahwa berbagai langkah strategis telah disiapkan untuk memastikan stabilitas harga, terutama menjelang momen Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN).

Untuk memastikan harga tetap stabil, BI dan TPID akan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara serentak di seluruh kabupaten/kota di Sulsel.

Selain itu, optimalisasi Mini Distribution Centre (MDC) akan diperluas ke berbagai pasar guna menyediakan kebutuhan pangan dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Pemerintah daerah juga didorong untuk mengalokasikan dana APBD serta Dana Desa guna mendukung program pengendalian inflasi dan ketahanan pangan,” katanya, Rabu (26/02)

Selanjutnya BI dan TPID akan berkoordinasi dengan Bulog untuk mempercepat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Selain itu, petani akan mendapatkan dukungan berupa benih unggul melalui Program Mandiri Benih guna meningkatkan produktivitas padi.

Pemerintah daerah juga didorong untuk menyiapkan Cadangan Beras Pemda (CBPD) demi memperkuat ketahanan pangan.

“Inovasi digital farming akan diperluas pada komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai agar lebih efisien dan produktif,” lanjutnya.

Untuk mencegah kendala distribusi, BI dan TPID akan memperluas kerja sama dengan distributor serta toko ritel melalui program SIPEPA.

Beberapa ritel modern, seperti Alfamart dan Indomaret, juga akan dilibatkan dalam distribusi komoditas pangan. Selain itu, pemanfaatan Biaya Tidak Terduga (BTT) oleh pemerintah daerah akan digunakan sebagai subsidi ongkos angkut.

Kerja Sama Antar Daerah (KAD) juga diperkuat untuk menghubungkan daerah dengan surplus pangan ke daerah yang mengalami defisit.

Dalam aspek komunikasi, BI dan TPID akan menggelar High Level Meeting (HLM) yang melibatkan berbagai instansi untuk menyelaraskan kebijakan pengendalian inflasi.

Selain itu, sosialisasi belanja bijak akan digencarkan melalui kolaborasi dengan tokoh masyarakat, influencer, dan pemimpin daerah. Pemanfaatan website SIGAP SULTAN (Sistem Informasi Harga dan Pasokan Pangan Sulawesi Selatan) juga akan dioptimalkan untuk membantu TPID dalam merumuskan kebijakan berbasis data yang lebih akurat.

Dengan strategi ini, BI Sulsel optimistis inflasi di 2025 dapat tetap terkendali dan stabil, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga serta pertumbuhan ekonomi daerah terus berlanjut.

harvardsciencereview.com
https://inuki.co.id