Perusda
Bank SUlsel Bar

Kadin: Perkebunan Sawit di Sulsel Harus Libatkan Masyarakat

on 16/3/18 Oleh Marwah Ismail
Kadin: Perkebunan Sawit di Sulsel Harus Libatkan Masyarakat
(Sumber foto: Int)

Kabarmakassar.com, Makassar-- "Masyarakat harusnya dilibatkan, kalau ada PTPN yang membangun suatu perkebunan kepala sawit. Harus dilaporkan bahwa ke Kadin harus melibatkan petani yang ada. Sehingga tidak terjadi kesenjangan," kata Ketua Kadin Sulsel, Zulkarnaen Arief saat ditanyai persoalan perkebunan sawit di Sulawesi Selatan. 

Menurutnya, meski saat ini perkebunan sawit belum meluas dan sebagian besar dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara (PTPN), pabrik pengelolaan sawit masih belum cukup untuk menerima plasma berskala besar dari para petani.

"Ketika plasma besar, harusnya ada perbankan muncul dan menjadi PTPN-PTPN swasta baru. Kita akan dorong itu. Mereka ahlinya," lanjut Zulkarnaen. 

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan menyebut pulau Sulawesi mulai dikuasai wilayah ekspansi untuk lahan sawit. 

Direktur WALHI Sulsel, Asmar Exwar mengatakan ekspansi lahan sawit saat ini telah sampai ke Kabupaten Soppeng dan Enrekang. Dimana masyarakat memanfaatkan sebagai kawasan bertani pangan lokal. 

"Malah kemarin juga ada rencana ekspansi perkebunan sawit ke Takalar itu. Jadi kalau kita lihat, Sulsel ada wilayah menjadi sasaran ekspansi baru," katanya usai menghadiri Nonton Bareng Film Asimetris di Kantor Kabarmakassar.com. Selasa, 13 Maret 2018 lalu.

Di Kabupaten Enrekang saat ini, mulai menanam kelapa sawit yang dikelola langsung oleh pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Padahal sebelumnya, masyarakat tidak menyetujui adanya ekspansi tersebut. 
 
"Di sana juga ada PT. Borneo yang juga ekpansi di sana, kemudian sebelumnya ada PT Babatuan yang ekspansi di Enrekang. Jadi kalau dilihat, Sulsel juga menjadi wilayah yang berpacu dalam sawit," lanjut Asmar.

Bahkan, adapula perusahaan perbankan yang mendukung maraknya pengusaan alam sebagai lahan kelapa sawit dengan memberikan pinjaman dana. 

Jika diketahui, sektor kelapa sawit membutuhkan lahan yang sangat luas. Padahal sebelumnya, masyarakat di daerah telah lama memanfaatkan kawasan sekitar tempat tinggalnya sebagai lahan sektor pertanian pangan lokal. 

Meskipun kelapa sawit menjadi salah satu sumber pendapatan negara, Menurut WALHI Sulsel, tidak perlu melakukan penambahan lahan. Sebaiknya melakukan perawatan lahan yang telah ada. 

"Untuk perkebunan yang sudah terlantar, ya diambil alih oleh masyarakat untuk dibudidayakan. Itu banyak jumlahnya," jelas Asmar. 

Sebaiknya menurut Asmar, masyarakat mampu memanfaatkan lahan sedikit dengan baik. Kabupaten Enrekang misalnya, terkenal dengan hasil pangan lokal seperti kopi, wortel, coklat, dan bawang. 

"Di lahan sedikit saja bisa ditumbuhi banyak hasil pangan. Sementara sawit membutuhkan lahan yang luas. Kalau masuk di wilayah seperti ini, artinya lahan pangan lokal akan tergantikan oleh sawit yang monokultur dan akan menimbulkan keterancaman pangan pada kita sendiri," pungkasnya.