Perusda
Bank SUlsel Bar

HUT Barru, Menolak Lupa We Tenri Olle Ratu

on 20/2/18 Oleh Sriwati Ilyas
HUT Barru, Menolak Lupa We Tenri Olle Ratu
Ist

KabarMakassar.com --- Dalam sejarah nama we tenri olle kurang populer dilembaran literatur dan hanya didominasi oleh ibunya, Colliq Pujie. Padahal Datu We Tenri Olle juga memiliki kontribusi yang sangat besar bagi masyarakat Tanete dan dunia pada umumnya.

Siti Aisyah atau kerap disapa Datu We Tenri Olle dikampungnya hanya dikenal lewat makam megah berwarna putih dengan bangunan bergaya arsitektur barat berbentuk kubah.

Makam tersebut tepatnya berada di Jl pancaitana Desa pancana Kecamatan Tanete Rilau kabupaten Barru berjarak 17 km dari pusat kota Barru dan 86 km dari kota Makassar.

We Tenri olle wafat pada tahun 1919, di desa Pancana Tanette Rilau, yang juga kampung kelahirannya. Di atas makam bangunan warna putih itu terdapat tulisan menggunakan ejaan van ophuijsen dan sebagian menggunakan bahasa belanda bertuliskan:

"We tenri olle Datoe Tanette 1356 1910 bommande oranje nassau ridder u leeuw".

Letak makam yang berhadapan langsung dengan laut ini memberikan hawa tersendiri bagi orang-orang yang melintas di area tersebut. Awalnya saya berpikir untuk masuk ke makam ini perlu izin dari tokoh masyarakat setempat.

Salah satu warga yang sedang memahat perahu nelayan Basri (45) membeberkan di daerah Pancana sendiri sudah tidak ada tokoh masyarakat yang tau banyak tentang cerita kerajaan Tanete terlebih penjaga makam we tenri Olle yang lama telah meninggal dunia.

Saat ini penjaga makam telah digantikan oleh pensiunan pegawai kebudayaan yang tinggal di daerah bottoe (8 km) dari area makam. Sehingga pendatang hanya dibebaskan masuk di area makam asalkan taat aturan.

"Penjaganya orang baru tidak menentu jadwalnya datang bersihkan makam biasa ta'satu bulan pi baru datang biasa juga mau pi lebaran" ungkap Basri

Menurut data dari cagarbudaya.kemendikbud.go.id tahun 2016 total makam dalam kompleks tersebut ada 42 buah selain makam we tenri olle juga terdapat makam pancaitana. Kedua makam tersebut berada dalam kuncup makam yang berbeda.

Kurang lebih 200 meter ke arah Utara Kita akan mendapati pusat kerajaan atau rumah tempat We Tenri Olle tumbuh hingga remaja bersama keluarganya.

Namun timbul kekecewaan yang mendalam bagi warga, Hasan (47) mengatakan kekecewaan tersebut timbul ketika rumah we Tenri Olle di rombak ulang atau di renovasi beberapa tahun silam, menurutnya menghilangkan bekas sejarah tersebut sama saja dengan menghilangkan semangat sejarah.

"Harusnya itu rumah kalau mau dirombak cukup ditambahi saja jangan dihancurkan dan diganti yang baru itu rumah sudah bukan rumah aslinya buatan semua. Bahkan kayu-kayu tiang panjang juga hilang entah kemana mungkin diambil atau dibeli orang" cerita Hasan.

Kini tanah yang dulunya menjadi tempat berdirinya rumah we tenri olle bersama keluarganya dibangun patung dari Colliq Pujie sebagai petanda bahwa dulunya merupakan rumah kerajaan. Menurut warga sekitar rumah tersebut telah menjadi milik pribadi Andi Citta Mariogi Idris beserta Andi Indris mantan Bupati Kabupaten Barru.

Besar harapan Hasan selaku warga desa Pancana agar pemerintah lebih memperhatikan wilayah tersebut sebagai lahan pariwisata atau kampung budaya sebab sejarah pernah mendaulat nenek moyangnya memiliki kontribusi yang besar bagi dunia melalui epos lagaligo. (*)