Perusda
Bank SUlsel Bar

Ini Hasil Sidang Skorsing Dua Mahasiswa Unhas

on 8/2/18 Oleh Muhammad Fajar Nur
Ini Hasil Sidang Skorsing Dua Mahasiswa Unhas
Fiqri saat ditemui di gedung Ipteks Unhas, Kamis 8/2.[Foto: KabarMakassar.com]

KabarMakassar.com --- Perjuangan melawan tindakan kekerasan akademik yang dilakukan salah satu kampus di kota Makassar masih terus berlanjut.

Pasalnya, kasus penangkapan yang berakhir dengan diskorsingnya Mohammad Nur Fiqri dan Rezki Ameliyah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) oleh pihak rektorat Universitas Hasanuddin (UNHAS) masih menunggu keputusan akhir dari pertemuan Pihak Rektorat yang dilakukan hari ini, Kamis, 08 Februari 2018.

"Tadi Hearing Session yang dilakukan untuk mendengarkan penjelasan dari saya, amel, Wakil Dekan III FISIP, Kepala Department Ilmu Hubungan Internasional dan Komdis FISIP. Hasilnya saya dan amel disampaikan untuk membuat permintaan maaf dan menjelaskan mau kemana setelah ini. Kami sepakati Tuntutan kami (Terkait Kampus Rasa Pabrik, dsb) akan disalurkan ke kajian-kajian yang difasilitasi oleh laboratorium HI atau lembaga kemahasiswaan yang dapat berbentuk seperti kajian atau kelas," ungkap Mohammad Nur Fiqri atau yang kerap disapa Fiqri saat ditemui di Gedung Ipteks Unhas.

Fiqri menengaskan hasil pertemuan yang dilakukannua bersama Amel dan beberapa perwakilan FISIP masih menunggu hasil setelah dia bersama Amel menyampaikan pandangannya terkait kasus skorsing yang dianggap cacat administrasi.

"Skemanya tadi rapat seperti Hearing Session, Skorsing masih ada karena itu wewenang Rektor dan masih berlaku sampai sekarang, kita masih menunggu hasil rapat tadi pada hari senin," tambah Fiqri yang juga merupakan Ketua Himpunan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS.

Hari ini, Solidaritas Mahasiswa UNHAS berkumpul untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap kasus kekerasan akademik yang dialami oleh Fiqri dan Amel. Mereka berkumpul di depan Gedung Rektorat UNHAS dari awal dimulainya rapat dan berpindah ke Gedung Ipteks UNHAS untuk mendengarkan langsung hasil rapat yang disampaikan Fiqri dan Amel.

Rezki Ameliyah atau yang kerap disapa Amel menambahkan bahwa kasus skorsingnya bukti bahwa adanya pengekangan berpendapat yang terjadi.

"Saya berterima kasih atas teman teman solidaritas yang peduli akan keadilan, saya tidak menyangka apa yang saya lakukan bersama fiqri membantu mengangkat isu keadilan.  Menurut saya semua yang disini sadar bahwa kita dikungkung untuk berekspresi, penangkapan saya dan fiqri bukti bahwa ada pengungkungan kebebasan," ungkap Amel di depan kerumunan mahasiswa.

Amel menambahkan bahwa kasus ini bukan hanya tentang skorsingnya dan Fiqri tapi ini bukti kalau terdapat kekerasan akademik.

"Ini bukti jika kita mentolerir kasus ini akan membiarkan kondisi kita terkungkung dalam berpendapat,"  tambahnya.

Dilansir dari rilis Himpunan Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS, kronologi penangkapan Fiqri dan Amel terjadi ketika mereka sedang menyampaikan aspirasi dalam poster dan menempelkannya di sejumlah titik kampus tersebut pada malam hari.

Saat menempelkan poster disalah satu titik, ia dan rekannya langsung ditangkap oleh satpam  dan langsung diamankan ke ruangan Wakil Rektor III Unhas, tanpa ada surat pemanggilan sidang, di hari yang bersamaan ia dan rekannya langsung mendapat skorsing dua semester dari pihak kampus unhas dengan anggapan melakukan kegiatan vandalisme. (*)