Perusda
Bank SUlsel Bar

Solidaritas Perempuan: Jangan Salahkan Perempuan Dalam Kasus Pelecehan

on 29/1/18 Oleh Muhammad Fajar Nur
Solidaritas Perempuan: Jangan Salahkan Perempuan Dalam Kasus Pelecehan
Ilustrasi.(Ist)

KabarMakassar.com --- Kabar buruk yang dialami salah satu cleaning service (CS) di Universitas ternama Kota Makassar menarik banyak perhatian tidak terkecuali Ketua Solidaritas Perempuan (SP) Anging Mammiri.

Musdalifah Jamal, selaku Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan Anging Mammiri Kota Makassar mengatakan bahwa kasus kekerasan seksual yang dialami oleh CS di kampus ternama yang baru-baru terjadi merupakan salah satu dari sekian banyak kasus kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan dan akan menimbulkan  trauma yang berkepanjangan.

Diwawancarai oleh Tim Redaksi KabarMakassar.com melalui WhatsApp pada Minggu Malam, 29 Januari 2018. Ifha menambahkan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan yang justru masyarakat salahkan adalah cara berpakaian perempuan.

"Sampai hari ini, perempuan masih saja dilihat sebagai objek kekerasan, hal ini tentunya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang menempatkan perempuan padaposii yang tersubordinat," ungkap wanita yang kerap disapa ifha.

Ifha juga menambahkan bahwa catatan tahunan Komnas Perempuan tahun  2016 telah menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual  berada pada posisi kedua setelah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebagai kasus yang sering terjadi pada perempuan.

"Hal ini tentunya menegaskan pentingnya pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Kekerasan Seksual yang sejak tahun 2016 masuk dalam prolegnas agar dapat melindungi hak perempuan dari berbagai tindakan kekerasan," tambahnya.

SP Anging Mammiri sekarang telah meminta dan mendesak kepada pihak yang berwajib agar pelaku kekerasan seksual yang dialami CS diberi hukuman yang sesuai dengan apa yang dia lakukan.

"Untuk rencana pengawalan kasus ini, kami akan kawal untuk non-litigasinya, karena untuk litigasi kami biasanya berjaringan dengan teman-teman LBH APIK Makassar," tuturnya.

Sejauh ini, SP Anging Mammiri hanya berkomunikasi dengan UKPM Unhas sebagai pihak yang pertama kali mengangkat kasus pelecehan CS tersebut.

Walau sempat terdengar kabar akan ditutupnya kasus pelecehan ini oleh korban, SP Anging Mammiri sendiri akan tetap menyelidiki lebih lanjut alasan  korban mau menutupi kasusnya.

"Biasasnya sih karena intimidasi yang dilakukan oleh oknum tertentu," tambahnya, kita perlu melakukan pendekatan dulu sama korban untuk mengetahui hal itu," tambahnya.

Ifa berharap masyarakat tidak menyalahkan kembali CS selaku korban kekerasan Seksual, namun harus mendukung korban dan mengecam keras tindakan pelaku dan mendesak oknum berwajib untuk menghukum pelaku.

"Beberapa pengalaman kalau kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan justru menyalahkan balik perempuan, biasanya menyalahkan cara berpakaiannya dan lain sebagainya," keluh Ifa terhadap kesalahan berpikir yang biasa terjadi dalam melihat perempuan sebagai korban pelecehan.

Pelecehan CS ini dialami oleh salah satu CS yang baru bekerja di Universitas Hasanuddin (Unhas) dan diketahui pertama kali oleh UKPM Unhas setelah mewawancarai CS dan pengawas CS Unhas terkait sistem Outsourcing di Unhas. CS yang baru bekerja dilecehkan oleh pengawasnya sendiri setelah disuruh datang lebih awal dari biasanya dan kemudian dilecehkan disalah satu ruangan disamping gedung IPTEKS Unhas.

Pelaku baru melepaskan korban saat Ia berteriak karena cleaning service lain sudah mulai datang. Setelah dilepaskan, korban diancam akan dipecat oleh pelaku jika Ia memberitahukan kejadian itu kepada orang lain.