Perusda
Bank SUlsel Bar

Ini Tanggapan Takdir Terkait Klarifikasi Keluarga Satpol PP

on 28/1/18 Oleh Indrawan
Ini Tanggapan Takdir Terkait Klarifikasi Keluarga Satpol PP
Korban penganiayaan satpol PP, Andi Takdir. [Foto: Dok.KM]

KabarMakassar.com --- Takdir mengatakan laporan kronologi yang dikeluarkan Satpol PP per tanggal 24 Desember 2017 itu tidak objektif, malah ada yang tidak benar.

Terutama tidak menjabarkan urutan kejadian saat anggota Satpol PP melakukan penganiayaan terhadap dirinya, setelah petugas itu menegur sekelompok pemuda yang berlatih breakdance di sudut pelataran air mancur Lapangan Merdeka.

Takdir yang juga penyandang disabilitas atau difabel daksa kinetik ini mengakui bila sejumlah Satpol PP menegur aktivitas pemuda itu sebanyak dua kali.

Teguran pertama, komunitas breakdance itu menghentikan aktivitasnya. Tak cukup 5 menit, aksi mereka kembali dilanjutkan.

"Saya suruh lagi lanjutkan, karena anggapan saya tidak ada aturan yang mengatur kalau dilarang latihan disitu, " kata Takdir, Kamis, 4 Januari 2018. Menurutnya tidak ada larangan untuk melakukan aktivitas di Lapangan Merdeka, sebab kata dia, itu adalah wilayah publik.

Artinya warga berhak untuk berada di dalam Lapangan Merdeka. "Saya sempat tanya kepada mereka pada malam itu, mana aturan soal larang melakukan aktivitas di sini. Tapi mereka tidak bisa menjelaskan, " jelasnya.

Takdir juga keberatan dengan anggapan bahwa dirinya mengeluarkan kata-kata tak sepantasnya. Ia pun mempertanyakan seperti apa ucapannya yang dimaksudkan oleh Satpol PP sebagai kata-kata tak sepantasnya.

"Saya juga bingung yang mana yang mereka maksud kata-kata yang tidak sepantasnya. Karena sedikitpun tidak ada kata-kata, maaf, kata kotor saya lontarkan, hanya intonasi bahasaku yang mungkin agak tinggi waktu itu, saya mengatakan: ahh lanjutkan saja, " ucapnya.

Yang paling disayangkan, kata dia, dalam kronologi disebut Komandan Operasi, yakni Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Trantib), Andi Baharuddin mengingatkan kepada anggotanya untuk tidak terpancing.

Namun Andi Baharuddin yang justru memulai penganiayaan kepada Takdir hingga petugas lainnya ada yang memiting lehernya.

"Ada juga statement mereka yang mengatakan kalau pimpinannya menyampaikan agar anggotanya tidak terpancing. Padahal jelas-jelas dalam video kalau pimpinannyalah yang memulai penganiayaan kepadaku, " tegasnya.

Ketidak objektifan selanjutnya dalam laporan itu, bahwa pada saat Takdir dikepung Satpol PP, dirinya dianggap tidak bersama dengan anaknya yang masih berusia empat tahun.

"Ada statemennya mengatakan saya tidak bersama anak saya, padahal jelas-jelas anak saya ada di samping saya, " bebernya.

Menurutnya, sebelum Satpol PP mengerumuni, Takdir sedang memeluk anaknya.

Saat makin terdesak karena petugas maju mendekatinya, anaknya terlepas dari pelukannya. Waktu awal mereka datang anak saya peluk. Setelah mereka merapat anak saya menghindar ke samping saya, Saat itulah terjadi insiden pemukulan yang tidak dijabarkan dalam kronologi Satpol PP.

"Saat saya dipukul anak saya ada di belakang saya. Itu terekam dalam video yang banyak tersebar, " kata dia.

Diketahui kasus ini sudah bergulir di Polres Bone dan polisi sudah menetapkan lima tersangka, masing masing, Andi Baharuddin (Kasi Trantib), Andi Saharifuddin (Kasi Pengawasan Penegakan Perda), Andi Ahmad Aminuddin (honorer), Andi Adhar (honorer) dan Faisal (honorer).

Meski sudah ditetapkan tersangka, Takdir mendapat berbagai teror dan intimidasi dari berbagai oknum untuk meminta kasus itu dihentikan.

Namun dirinya bersikeras melanjutkan kasus itu hingga ada vonis di pengadilan. (*)