Perusda
Bank SUlsel Bar

Mengenai Ukiran Toraja, Begini Tanggapan GM Four Points

on 27/1/18 Oleh Indrawan
Mengenai Ukiran Toraja, Begini Tanggapan GM Four Points
General manager Four points by Sheraton Makassar, Lasta Arimbawa

KabarMakassar.com --- Polemik beberapa karpet lantai Four Points Hotel Sheraton Makassar yang diduga menggunakan desain ukiran Toraja akhirnya mendapat tanggapan langsung dari General Manager Hotel Four Points Lasta Arimbawa.

Seperti yang telah diungkapkan Owner Four Points Idris Manggabarani sebelumnya, kata dia itu bukanlah ukiran Toraja melainkan desain karpet. Menurutnya, desainer orang Indonesia yang sudah lama mendesain puluhan istana raja-raja di Arab.

Dia mengklaim pihaknya sangat menghargai yang namanya kearifan lokal. "Contohnya saat ini kami memperbolehkan semua tim kami untuk memakai hijab. Selain itu tahun baru kemarin kami tetap menggunakan lagu lokal seperti pantai losari, meskipun ada juga artis nasional. Itu membuktikan spirit kami mengapresiasi kearifan lokal," ujar Lasta Arimbawa saat ditemui di acara Gathering Media, Jumat, 26 Januari 2018.

Sebelumnya Pemerhati Budaya Toraja, Belo Tarran yang menilai simbol yang mirip ukiran Pa’barana tersebut berada dilantai dasar hotel tersebut. Belo Tarran mengatakan ukiran toraja tidak etis jika dijadikan lantai dasar di hotel tersebut. Pasalnya ukiran Pa’barana tersebut memiliki makna sakral bagi orang Toraja. “Semua ukiran Toraja sebagai simbol dari Tallu Lolona (Lolo tau-lolo tananan-lolo patuan) semuanya itu terikat dalam satu dalam Tongkonan. Jadi kurang etis jika ukiran toraja dijadikan karpet dan diinjak para pengunjung hotel tersebut,” kata Belo.

Diketahui jika ukiran Pa’barana berasal dari kata Barana’ atau dengan kata lain pohon beringin. Makna ukiran Pa’barana agar keturunan dapat memperoleh rejeki dan berkembang seperti halnya pohon beringin yang selalu tumbuh dengan lebatnya dan juga diharapkan nantinya muncul keturunan yang bisa menjadi pemimpin dan melindungi rakyat.

Belo menambahkan jika intinya ukiran Toraja bukan hanya pada persoalaan hotel tetapi ukiran Toraja perlu diletakkan pada yang proporsi yang benar. Ia juga menegaskan pihak hotel harusnya melakukan koordinasi dan mempertanyakan kepada lembaga adat Toraja sebelum meletakkan ukiran khas Toraja tersebut. “Kita minta pihak hotel harusnya tanyakan dulu kepada lembaga adat Toraja, dan meletakkan ukiran tersebut pada tempatnya, bukan dilantai yang diinjak-injak orang. Hal tersebut saya rasa tidak etis,” kata Belo kepada KabarToraja.com, Rabu 10 Januari 2018.

Sementara itu Belo menyampaikan kepada pihak berkompeten seperti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Toraya, Pemerintah Daerah (Pemda) Tana Toraja dan Pemda Toraja Utara harus membuat aturan penggunaan ukiran Toraja dan menempatkannya pada posisi yang layak. “Jika tidak diatur dari sekarang, saya khawatir ke depan ini ukiran Toraja bisa juga dipasang di sembarangan tempat,” tutupnya.