Perusda
Bank SUlsel Bar

Drama Kasus Penculikan Anak di Makassar

Kejadian Kota Makassar

on 10/1/18 Oleh Hendra N. Arthur
Drama Kasus Penculikan Anak di Makassar
Penemu korban penculikan Balita berinisial "HN" saat berada di kantor Polsekta Tamalanrea saat melaporkan bayi "HN" yang menjadi korban penculikan yang terjadi di Jalan Pendidikan Raya, Kompleks UNM Blok BII Nomor 12 Makassar Selasa (9/1/2018). Foto: Ist

KabarMakassar.com --- Tragedi penculikan seorang bocah perempuan. Viral di jejaring sosial media beberapa waktu lalu. Terus menjadi perbincangan hangat. Jadi sorotan utama sejumlah media arus utama.

Empati warga yang massif. Menarik perhatian pencari fakta terus menggali setiap penggalan peristiwa itu. Kabar terkini, kabar hoaks hingga klarifikasi kabar itu sendiri. Bagaikan hembusan angin. Tak henti mengabarkan menelusuri setiap detik informasi yang berkembang.

Rentetan peristiwa mulai dari kronologi drama penculikan. Dari kisah penjaga balita "HN", disekap dan diborgol hingga kabar aparat kepolisian saat mengejar pelaku.

Bagaikan film sinema pendek. Skenario penculikan itu berlangsung utuh. Warga berbaur bersama awak media mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP). Mereka berlomba-lomba menggali dan mencari informasi menarik.

Jejaring sosial hingga media platform digital. Seakan berebutan menampilkan sesuatu yang baru. Tak peduli. Apakah informasi itu akurat atau hoaks. Goal mereka sederhana. Bagaimana publik tertarik.

Mereka haus dengan informasi terkait drama kasus penculikan itu. Warga pun yang semakin penasaran dengan kisah penyanderaan itu. Nekat mendatangi TKP di Jalan Pendidikan Raya, Kompleks UNM Makassar. Bersama tim pencari fakta. Mereka mengejar topik, bagai candu.

Membuat kabar terbaru. Mengambil beragam informasi yang bagai bola liar berseliweran di dunia maya.

Kurang lebih 10 jam. Drama penyanderaan balita mungil berinisial "HN" itu terus bergulir. Sejak dikabarkan diculik Orang Tak Dikenal (OTK) di TKP. Hingga drama sang bayi yang dikabarkan ditemukan oleh seorang Ibu Rumah Tangga. Penemuan balita di kompleks perumahan Telkomas, Tamalanrea Makassar kembali menimbulkan beragam opini liar dari berbagai kalangan.

Ibu berkacamata yang dikabarkan menemukan bocah perempuan "HN" kembali menjadi viral. Foto-foto ibu bernama Mery, dengan pose menggendong bocah itu. Menjajal di sejumlah grup hingga akun personal sosmed warga.

Awak media arus utama tak mau kalah. Mereka terus menggali data terupdate. Membuat korelasi yang berujung pada judul-judul yang sensasional dan menarik.

Berselang beberapa lama, setelah penemuan balita HN. Ayah korban menjemput sang buah hati di Polsekta Tamalanrea. Layaknya seorang artis. Drama penjemputan itu kembali menarik perhatian berbagai kalangan.

Tak memandang usia hingga profesi. Aparat kepolisian, masyarakat sipil hingga awak media. Secara mendalam mereka menangkap momentum eksklusif itu.

Gadget berbagai merek hingga kamera foto dan video terlihat saling berebutan. Ingin mengabadikan peristiwa yang memainkan perasaan setiap insan. Bagaikan seorang kandidat yang ingin mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ayah korban bersama buah hatinya menjadi sorotan kamera dari berbagai jenis itu.

Tak peduli. Kondisi korban dalam keadaan trauma. Meski, wajah balita polos itu terlihat lelah. Akibat berjam-jam terkekang bersama pelaku penculikan.

Warga bersama awak media yang penuh dengan rasa penasaran. Terus mengejar dan memaksa mengabadikan momen menarik itu.

Bayi yang belum genap berusia 5 tahun itu. Tampak pasrah dan bersandar di bahu Ayahnya. Kedua tangannya terlihat memegang erat leher sang Ayah. Seolah tak ingin lepas.

Parasnya terlihat pucat. Demikian juga wajah sang Ayah terlihat mengkerut.

Sejak prosesi penjemputan sang buah hati di  kantor polisi. Hingga tiba di kediamannya. Tanpa henti-henti berbagai kalangan ramai memberikan dukungan moril. Walaupun kepeduliaan itu, perlahan-lahan berubah menjadi beban korban dan keluarganya.

Hati siapa yang tidak tergerak. Jika balita "HN" yang asik bermain di rumahnya. Tiba-tiba diambil dengan cara paksa dari pelukan penjaganya.

Rasa iba, sedih, marah hingga kecewa bercampur aduk. Akun media sosial warga menjadi pelampiasan warga menyampaikan rasa simpati yang diikuti opini beragam kalangan itu.

Terkadang kepeduliaan kita terlalu berlebihan. Meskipun empati itu penting. Tak sadar. Kita terbawa emosi menampilkan secara vulgar sosok bocah itu ke ranah publik.

Belum lagi media-media arus utama yang seolah haus. Terus mengupdate kabar terbaru. Tanpa memperhatikan lagi aturan yang mengikat profesi mereka.

Padahal bagi sebagian profesi jurnalis. Paham dalam setiap pasal yang diatur dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Etika peliputan telah mengatur poin-poin tentang pemuatan identitas anak. Sangat tegas, KEJ melarang menampilkan nama jelas anak sebagai korban.

Tidak mengeksploitasi anak untuk kepentingan media. Tidak memuat atau menayangkan foto, grafis dan audio visual terhadap anak sebagai korban, pelaku, atau saksi. Terkecuali mendapat persetujuan tertulis dari anak dan orang tua/wali, yang mustahil ketika berada dalam kondisi itu.

Etika pemberitaan bukan lagi hal sakral bagi kalangan profesional. Aturan yang dibuat untuk perlindungan hak anak dianggap sepele.

Bahkan lupa. Bagaimana psikologi anak, jika suatu saat mereka menemukan penggalan tulisan, foto, graphis atau video tentang dirinya saat mengalami peristiwa yang membuatnya trauma berkepanjangan.

Beban psikis anak tak lagi menjadi perhatian kita. Padahal mereka memiliki hak untuk dilindungi. Bahkan negara secara tegas mengatur norma itu.

Menjaga kualitas moral dan mental generasi yang akan datang, bukan lagi hal yang penting. Miris dan betul-betul sangat memprihatinkan.

Komersialisasi karya yang berujung ego. Demi rating dan prestise. Kita tak peduli lagi apa yang akan menjadi ancaman buat perkembangan mereka nanti.

Kalangan media dan profesi jurnalis yang idealnya berada di garda terdepan. Bahkan wajib menjaga dan melindungi hak anak. Justru menjadi tirani bagi mereka.

Sampai kapan pilar keempat yang kita bangga-banggakan akan mendapat kepercayaan publik. Jika hal-hal kecil semacam ini tidak menjadi perhatian kita.

Haruskah anak-anak kita hidup dalam ketakutan, kegelisahan hingga traumatik mendalam. Hanya karena kepentingan komersial karya-karya kita. Profesi ini justru melukai mereka.

Bagaimana jika generasi kita menjadi pribadi yang labil dan arogan. Mereka lebih memilih cara-cara kekerasan atau memilih hidup dengan aktifitas-aktifitas yang konyol.

Siapa yang bertanggung jawab jika mereka menjadi generasi pengisap lem atau begal, yang sebagian dari kita menganggapnya sebagai sampah masyarakat.

Kita tak pernah sadar. Jika mereka akan tumbuh. Mencari jati diri. Bagaimana jika mereka menemukan masa lalunya yang kelam dalam setiap postingan atau karya-karya kita.

Pantaskah mereka kita perlakukan demikian ? (*)