Perusda
Bank SUlsel Bar

Pengedar Kosmetik Ilegal Jaringan Malaysia Diringkus Polisi 

1 week, 3 days ago Oleh Bahar
Pengedar Kosmetik Ilegal Jaringan Malaysia Diringkus Polisi 
Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, saat Press Conference, terkait kosmeti ilegal, di halaman Mapolres Gowa, Rabu (6/12).

KabarMakassar.com - Pengedar kosmetik palsu jaringan asal Malysia berisial MAH (41) diringkus polisi di Jl Dato ri Panggentungan, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Selain mengamankan pelaku, polisi juga menyita barang bukti ratusan paket kosmetik ilegal siap edar.

"Pelaku diamankan karena karena, diduga terbukti memproduksi dan mengedarkan kosmetik tanpa dibekali izin dari BPOM alias ilegal. Kosmetik itu diedarkan kepada pedagang di pasar," kata Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, saat Press Conference, di halaman Mapolres Gowa, Rabu (6/12).

Shinto Silitonga mengatakan, pelaku sudah mengedarkan kosmetik ilegal di Gowa sejak 2015 lalu, dengan cara pemesanan barang via ponsel di wilayah Parepare dan dikirim melalui angkutan umum. Kemudian, pelaku penentukan lokasi pengambilan barang. Biasanya di sekitar Jl AP Pettarani, Makassar. 

Shinto membeberkan, jenis kosmetik ilegal yang diamankan polisi yakni, hitening cream sebanyak 2880 pcs, RL sebanyak 1400 pcs, Maxi peel sebanyak 95 botol, Supra ginseng sebanyak 12 pcs, Diamond cream sebanyak 132 pcs, Mahkota sebanyak 144 pcs, Stoner sebanyak 12 botol, Bahan baku bubuk cream sebanyak 15 kg dan sudah di kemas dalam bungkusan plastik berbagai ukuran, serta Sabun pembersih wajah sebanyak 12 pcs.

Dia mengatakan, pengedar kosmetik ilegal berhasil diungkap polisi ini, berdasarkan laporan informasi  dan hasil penyelidikan unit opsnal. Kemudian, Kamis 16 Desember 2018 Pukul 15.30 Wita  dilakukan penggerebekan. 

"Keuntungan dari hasil penjualan dalam sebulan mencapai Rp4 juta. Konsumen mendatangi rumah pelaku untuk membeli,pemesanan barang dilakukan setiap 3 minggu sekali, serta 
pembayaran dilakukan setelah seluruh barang laku terjual dan ditransfer kepada pemasok berinisial (NI). Pelaku sudah lama bekerjasama dengan pemasok (NI). Pelaku juga memasok ke pasar," katanya. 

Perwira menengah ini mengatakan, pelaku dijerat pasal berlapis yakni, pasal 197  juncto pasal 106 ayat (1), pasal 196 juncto pasal 98 ayat (2) dan (3), pasal 198 juncto  pasal 108 UU 36 tahun 2009 tentang kesehatan serta pasal 62 ayat (1) dan pasal 8 huruf a dan d UU no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. 

"Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda sebesarRp1,5 Milyar,"pungkasnya.