OPINI: Kisah Jembatan Suramadu yang Digratiskan

Oleh Alois Wisnuhardana

OPINI: Kisah Jembatan Suramadu yang Digratiskan

KabarMakassar.com -- Jaki sudah keluar dari kampungnya di Tanjung Bumi Madura sana, selepas tsanawiyah. Ia memilih mondok jadi santri di Jombang.

Untuk ke tanah Jawa, ia harus naik ferry. Yang paling diingatnya adalah Putre Koneng. 

Kapal itulah satu-satunya alat untuk menyeberangkan mimpi dan cita-citanya, dari anak ingusan kampung, menuju Jawa yg jauh lebih maju.

Bapaknya harus menyediakan ongkos ekstra kapal yg melayari dua pantai berjarak enam kilo saja. 

Ratusan ribu, jutaan, orang Madura, turun temurun ya harus dan terpaksa begitu bila mau maju. 

Lalu di mulailah pembangunan jembatan, supaya gerak warga jadi lebih laju. Jembatan itu dinamai Suramadu. Menyingkat identitas Surabaya dan Madura. 

Suramadu dibangun zaman Presiden Megawati. Selesai ketika Pak Beye memerintah, maka jembatan ini pun juga diresmikan oleh beliau. 

Sejak diresmikan, ratusan juta kali kendaraan lalu lalang di atasnya. Tiap tahun, jenis roda empat atau lebih yg lewat mencapai hampir 11 juta per tahun. 

Roda dua hampir lima juta. Termasuk Jaki yg kini sudah bermobil. Pendapatan Jasa Marga mencapai ratusan miliar per tahun. Berkisar Rp140 - 200 miliar. 

Jika dihitung rerata per tahun segitu, uang yg didapat sudah mencapai 1,2 hingga 1,6 triliun rupiah.Lalu Presiden Joko Widodo  menggratiskannya. Pendapatan triliunan per tahun hilang. Apa efek lainnya? 

Jelas harga tanah yang meningkat di Madura, terutama Bangkalan. Kabupaten paling barat Madura ini punya luas 1.260 km persegi. Atau kira-kira 1,26 miliar meter persegi.

Jika akibat penggratisan jembatan ini harga tanah naik seribu rupiah saja per meter, nilai ekonominya sudah mencapai 1,26 triliun rupiah. Setara dengan nilai penggratisannya. 

Belum jika dihitung dengan kabupaten tetangga Bangkalan. Madura juga akan makin menarik buat investor, dari luar ataupun lokal Madura sendiri. Orang Madura dikenal sebagai pebisnis tangguh dan jeli menangkap peluang. 

Hambatan logistik dan transportasi sudah dihancurkan Jokowi. Pulau ini, setidaknya Bangkalan, akan melompat MAJU. Wilayah ini akan kian mengilap seperti Gresik Sidoarjo atau Mojokerto. 

Dulu, banyak pebisnis urung melirik Madura jadi tujuan usaha krn biaya penyeberangan menjadi kendala. Padahal, bibir pulau ini jaraknya tak sampai 6 kilo dari bibir Jawa.

Sekarang, dua bibir pulau itu tiada lagi yang merintangi, tiada lagi kendala untuk menyatu. Maka, Madura yang maju, sudah pasti tak perlu lama menunggu waktu.

Jaki, sejak kepergiannya dari Madura berpuluh tahun lalu, kini sudah jadi doktor dan dosen di kota paling maju pendidikannya di Jawa, Jogjakarta. 

Jika ia mau pulang ke Madura, ia tak lagi perlu naik Putre Koneng yang makan waktu juga biaya ekstra. Lagi pula, jika naik kapal itu kini, kapal bisa miring ke kiri krn berat tubuhnya sudah tiga kali lipat dari sejak perjalanan pertamanya ke tanah Jawa. 

Bener kan, Abdur Rozaki?

Penulis :

Editor :