Perusda
Bank SUlsel Bar

Pentingkah Membiarkan Anak Menangis?

Kolaborasi Liputan6.com

on 14/7/18 Oleh Muhammad Fajar Nur
Pentingkah Membiarkan Anak Menangis?
ilustrasi.(Foto: Parents.com)

KabarMakassar.com -- Menghadapi anak ketika menangis memanglah bentuk salah satu kekhawatiran bagi orang tua. Berbagai cara dilakukan untuk meredam tangis si buah hati. Namun benarkah membiarkan anak-anak menangis tidak memiliki manfaat sama sekali?

Dilansir dari Liputan6.com, Mommy Felicia Denisa dari Babyologist menjelaskan tangisan anak yang dibiarkan juga memiliki beberapa manfaat, termasuk dalam menyalurkan perasaan buah hati yang terpendam.

"Membiarkan anak menangis itu penting loh, tapi jangan lama-lama. Membiarkan menangis yang dimaksud di sini adalah jangan melarangnya menangis. Karena dengan melarangnya menangis, justru akan membuat dia memendam perasaannya dan akan membuatnya merasa tertekan," jelasnya.

Felicia menambahkan melarang anak menangis tidaklah sepenuhnya salah, namun melarang buah hati kita menangis harus melihat kondisi seperti usia anak dan cara melarang anak untuk mengekpresikan perasaannya.

"Sebenernya melarang anak menangis itu tidak sepenuhnya salah, tapi harus dilhat juga usia sang anak, jika anak sudah bisa mengerti mana yang baik dan tidak baik, boleh saja melarangnya tapi dengan cara yang benar, dan tidak membuat anak malah jadi tertekan," ungkap Felicia.

Tambahnya, jika usia anak masih bayi dan belum dapat berbicara, tangisan merukan salah satu bentuk komunikasi yang mereka lakukan, maka seharusnya orang tua tidak melarang sang anak untuk menangis. 

"Karena dengan menangis, mereka mengutarakan apa yang sedang mereka rasakan, seperti sedang sakit, lapar, haus atau tidak nyaman. Bayangkan saat kita lagi sakit, tidak bisa bicara, dan kita hanya bisa menangis, karena mau bilang ada yang sakit, eh malah tiba-tiba saja dibentak dan disuruh diam, coba bayangkan anak kita yang mengalaminya," jelasnya.

Pelarangan anak untuk mengekpresikan perasaannya termasuk untuk menangis dapat menumpuk perasaan dalam diri mereka yang menyebabkan perilaku yang negatif. Misalnya seperti, menarik diri, teriak-teriak, sering memukul, ngamuk, dan mereka juga akan susah untuk berempati kepada orang lain. 

Perlu diketahui, Dieter Wolker, ketua tim peneliti dari Warwick University, Inggris, menjelaskan di negara-negara yang diteliti, bayi-bayi memperlihatkan situasi yang berbeda di pekan-pekan awal kehidupan mereka. Bayi-bayi yang lebih jarang menangis ada di Denmark, Jerman, dan Jepang.

Penelitian yang terbitkan di Journal of Pediatrics ini menganalisis sekitar 8.700 bayi di sejumlah negara seperti Jerman, Denmark, Jepang, Kanada, Italia, Belanda, dan Inggris.

Wolker mengatakan bagan soal tangisan bayi bisa membantu pekerja kesehatan menenangkan para orang tua yang mungkin saja khawatir melihat bayi mereka yang mungkin saja dianggap lebih sering menangis pada tiga bulan pertama dibandingkan bayi-bayi lain.

Jika bayi menangis lebih dari tiga jam per hari dalam setidaknya tiga hari per pekan, maka ini masuk kategori tinggi dan ini ditemukan pada bayi-bayi di Inggris, Kanada dan Italia. Menurut para peneliti, bayi rata-rata menangis sekitar dua jam per hari dalam dua pekan pertama. Kemudian mereka lebih sering menangis pada pekan-pekan berikutnya hingga mencapai puncak, sekitar dua jam 15 menit saat mencapai usia enam pekan.