Perusda
Bank SUlsel Bar

Bagaimana Mengukur Kredibilitas Lembaga Survei?

on 24/5/18 Oleh Redaksi
Bagaimana Mengukur Kredibilitas Lembaga Survei?
Ilustrasi.(Ist)

KabarMakassar.com -- Berbagai Lembaga survei mulai bermunculan menyambut pesta demokrasi yang tidak lama lagi akan digelar. Dengan berbagai tujuan, hasil dari lembaga survei yang berbeda dalam menyikapi popularitas kandidat peserta Pemilihan Umum (Pemilu) baik dari tingkat Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Gubernur (Pilgub), hingga Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) menimbulkan tanya bagaimana lembaga survei bergerak dan menciptakan hasil surveinya, terkhusus untuk lembaga survei politik yang bergerak dalam Pilgub Sulawesi Selatan (Sulsel).

Perlu diketahui, lembaga survei memiliki argumen sendiri untuk mendulang suara dalam survei yang dilakukan guna mengungguli orang ataupun lembaga yang menjadi klien-nya.

Walau bagaimanapun, menurut Manager Riset Celebes Research Center (CRC) A.Wahyuddin Abbas mengungkapkan setiap lembaga survei memiliki metode ilmiah dalam mengontros kualitas hasil surveinya, walau dalam beberapa hasil terdapat perbedaan besar antara lembaga survei satu dengan lainnya.

"Survei dilakukan dengan beberapa tahapan sesuai metode survei secara ilmiah, juga dilakukan kontrol atas kualitas survei, dan metodologi yang digunakanlah yang pada akhirnya menjadi track record lembaga survei tersebut mempunyai kredibilitas atau tidak, " ujar Andi Wahyuddin saat diwawancarai oleh Redaksi KabarMakassar.com pada Rabu, 23 Maret 2018 .

Laki-laki yang kerap disapa Wahyuddin itu juga menjelaskan bahwa sepanjang hasil survei tersebut disajikan secara jujur dan sesuai metode yang benar maka patut diberikan apresiasi karena menyajikan informasi bagi pemilih dalam menentukan pemimpinnya 5 tahun kedepan.

"Dalam konteks tersebut Lembaga survei sebagai 'anak' perkembangan demokrasi modern bisa menjadi salah satu bagian yang memperkuat demokrasi. Namun demikian, lembaga survei juga harus menjaga amanah tersebut dengan penuh tanggungjawab melalui penyajian hasil survei yang jujur dan benar," tambahnya. 

Menguatkan argumentasi Wahyuddin, Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Alauddin, Dr. Syahrir Kasim juga menyikapi bagaimana lembaga survei politik bergerak, terkhusus seberapa transparan metodologi yang digunakan kepada publik.

"Track record yang bagus selama merilis hasil survei, metodologi dan respondennya juga harus transparan ke publik. Hasil dan sumber anggarannya  mampu dipertanggung jawabkan itulah sebenarnya indikator kredibilitas lembaga survei, " ujar Dr. Syahrir Karim saat diwawancarai di tempat yang terpisah oleh Redaksi KabarMakassar.com

Menurutnya, rilis beberapa lembaga survei selama ini di Sulsel baik Pilgub maupun Pilwalkot memperlihatkan keberagaman hasil bahkan ada yang sangat mencolok perbedaannya perlu mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat.

"Tentu ini mesti dicermati baik-baik, supaya tidak gampang tergiring opini dengan beragamnya rilis survei yang ada. Minimal masyarakat mesti menelusuri bagaimana track record dan kredibilitas lembaga tersebut dalam merilis hasil survei lembaganya. Juga mesti dilihat apakah lembaga ini betul-betul tidak punya kedekatan dengan calon tertentu misalnya menjadi konsultan politiknya dan lain-lain. Lembaga survei yang bertindak sekaligus menjadi konsultan politik lalu kemudian merilis hasil surveinya itu patut dipertanyakan hasilnya," tambahnya.

Menurut Syahrim, salah satu kekurangan lembaga survei terkhusus di Sulsel muncul karena adanya indikasi kedekatan dengan pasangan calon tertentu dan metodologi survei termasuk responden yang tidak jelas.

"Akibatnya hasil survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei tersebut menjadi kurang proporsional karena pendukung partai atau figur tertentu jadi kurang terwakili, " tutup Syahrir.

Bagaimanapun, pada akhirnya masyarakat sebagai pemilih dalam Pemilu mendatang menjadi kunci utama bagaimana hasil survei digunakan. Masyarakat diharapkan mampu memahami seluk-beluk survei sehingga bisa memantau berjalannya rangkaian pesta demokrasi menjelang hari H yang mulai dibanjiri dengan keberagaman hasil lembaga survei.

[Nur Fadhilah Sophyan]