Festival Songkran Thailand Diwarnai Perjuangan Perempuan

Festival Songkran Thailand Diwarnai Perjuangan Perempuan

KabarMakassar.com -- Jika India mempunyai perayaan Holi yang identik dengan warna warni masyarakat dalam merayakan musim semi di India. Thailand juga mempunyai perayaan unik bagi masyarakatnya dalam merayakan Hari Tahun Baru tradisional oleh Masyarakat Buddha.

Acara tahunan dengan nama Songkran ini identik dengan penyiraman dan perendaman masyarakat dengan air di Thailand tidak hanya disambut oleh masyarakat, tetapi juga para pejabat pemerintahan.

Sayangnya, sambutan para pejabat Bangkok identik dengan pemberian peringatan awal dalam menyambut perayaan seperti slogan "Untuk menghindari pelecehan seksual, perempuan harus memperhatikan bagaimana mereka berpakaian".

Dilansir dari Time.com, Peringatan pejabat diperayaan tahun ini telah memicu reaksi di media sosial yang diinspirasi dari gerakan #MeToo.

Para perempuan yang mengikuti perayaan Songkran mulai berbagi cerita-cerita tentang pelecehan seksual yang mereka alami selama liburan tiga hari perayaan Songkran. Para Perempuan kemudian merasa tersinggung atas saran pejabat pemerintahan bahwa pakaian mereka yang harus disalahkan dan bukan pelaku pelecehan atau penyerangan itu.

Untuk mengalihkan fokus kembali ke perilaku laki-laki, Cindy Sirinya Bishop, salah satu selebritas keturunan Thailand-Amerika memulai kampanye melawan Blaming Victim yang terjadi di perayaan Songkran dengan #DontTellMeHowToDress.

"Perempuan memiliki hak untuk berpakaian apapun yang kami inginkan, selama pilihan itu tidak ilegal, Pelecehan dan kekerasan seksual tidak pernah menjadi kesalahan perempuan. Suruh laki-laku untuk menjaga tangan mereka sendiri!" tulisnya di akun Instagramnya Cindysirinya yang kini telah disukai sebanyak 17.000 lebih akun pengguna Instagram. 

Kampanye hashtag tersebut kemudain telah menghasilkan banyaknya dukungan di Thailand daripada #MeToo.

"Masyarakat Thailand cukup konservatif, dan sangat sulit untuk seseorang keluar begitu saja menuding seseorang telah menyerangnya dalam perayaan, aku tidak tahu apakah kita sudah siap untuk itu," ungkap pembawa acara Next Top Model Asia itu.

Tradisi tahunan perayaan Songkran di Thailand menggunakan air yang disiramkan di masyarakat guna membersihkan dan membuang kesialan yang ada. Perayaan Songkran juga telah menarik banyak perhatian penduduk lokal dan turis di Thailand.

Perlu diketahui, menurut Yayasan Gerakan Progresif Non-profit perempuan dan  laki-laki yang berbasis di Bangkok mengeluarkan hasil survei terbaru mereka yang menunjukkan banyaknya kasus pelecehan terjadi saat perayaan Songkran yang berlangsung dari 13 hingga 15 April 2018. Dari survey yang dilakukan terhadap 1.650 perempuan di Thailand, hampir 60% responden mengatakan bahwa mereka telah diraba selama perayaan Songkran dan hanya sebagian kecil yang melaporkan insiden tersebut ke polisi.

Penulis :

Editor :