Setelah Sepekan, IDI Angkat Bicara Soal Dokter Cuci Otak

Kolaborasi Liputan6.com

Setelah Sepekan, IDI Angkat Bicara Soal Dokter Cuci Otak

KabarMakassar.com -- Setelah viral dan menjadi bahan diskusi oleh masyarakat, pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) angkat bicara soal kebocoran surat rekomendasi pemecatan sementara dr Terawan Agus Putranto.

Dilansir dari Liputan6.com pada Senin 9 April 2018, setelah serangkaian pertemuan, termasuk memberi kesempatan dr Terawan membela diri, pengurus besar IDI menyatakan, dr Terawan masih bisa menjalankan profesinya kecuali terapi cuci otak yang masih dianggap kontrobersial.

Pembelaan dari dokter Terawan sebelumnya diberikan pada 6 April 2018. Dalam pembelaan tersebut, dokter Terawan mengaku tidak melakukan pelanggaran seperti mengiklankan diri berlebihan seperti yang ditulis dalam surat rekomendasi pemecatan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

"Kami (IDI) sudah mendengar pembelaan dari dokter Terawan. Sekarang kami lagi proses mengumpulkan bukti dan menunggu hasil penilaian Tim Health Technology Assessment (HTA)," kata Ketua Pengurus Besar IDI Ilham Oetama Marsis saat konferensi pers di Kantor PB IDI, Jakarta, Senin 9 April 2018.

Sebelumnya, surat rekomendasi pemecatan sementara dr Terawan Agus Putranto beredar luas di masyarakat pekan lalu. Dokter Terawan dinilai telah melanggar Pasal 4 dan 6 terkait kode etik dan sumpah dokter. Yang pertama soal mengiklankan diri, dan kedua soal metode terapi cuci otak yang tergolong teknik pengobatan baru belum teruji kebenarannya.

Ketua KKI (Konsil Kedokteran Indonesia), Prof. Dr. dr. Bambang Supriyatno, SpA(K) mengungkapkan seorang dokter dinyatakan melakukan pelanggaran melalui tiga hal, yaitu etik, disiplin, dan hukum. Dia menjelaskan, seorang dokter dinyatakan melakukan pelanggaran disiplin apabila salah memberikan informasi atau mengambil tindakan (malapraktik). Adapun, untuk hukum, yaitu apabila dokter melakukan pelanggaran di luar profesi kedokteran, misalnya membunuh orang di jalan.

"Nah, kalau pelanggaran etik itu misalnya kalau dokter mempromosikan dirinya berlebihan, mematok tarif yang terlalu tinggi atau tidak normal, dan tidak memenuhi panggilan. Itu kan yang dilakukan dokter Terawan," ujar Bambang.

Perlu diketahui, metode terapi penyembuhan penyakit stroke atau yang dikenal sebagai terapi cuci otak dr Terawan yaitu memasukkan alat kateter melalui pangkal paha menyusuri pembuluh darah menuju otak.

Kemudian dimasukkan pula obat Heparin, obat yang digunakan untuk menghancurkan plak atau sumbatan yang biasanya berupa lemak pada pembuluh darah. Efek lain obat ini adalah anti pembekuan pembuluh darah.

Terapi cuci otak menggunakan metode DSA (Digital Substraction Angiography) membuat dokter Terawan Agus Putranto harus berurusan dengan MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran). Dokter TNI tersebut dianggap telah melakukan pelanggaran etik. Ternyata, ada jenis pelanggaran lain yang dapat dilakukan oleh seorang dokter.

Penulis :

Editor :