Perusda
Bank SUlsel Bar

SYL, SANG FENOMENAL

Oleh: Syamsuddin Umar, Mantan Kadispora

on 1/4/18 Oleh Lina Budi Astuti
SYL, SANG FENOMENAL
Ist.

KabarMakassar.com --- Saya akan membaca fenomena “hijrah”-nya SYL dari Partai Golkar ke Partai Nasdem dari perspektif sepakbola. Saya menggunakan istilah “hijrah” yang secara subtantif bermakna sebagai perpindahan menuju ke sebuah kondisi yang insya Allah lebih baik dari sebelumnya, ditinjau dari sudut manapun. 

“Hijrah” berarti perpindahan untuk bisa semakin bermakna, dalam rangka mewujudkan harapan dan aspirasi masyarakat yang dibebankan di pundaknya.
SYL ibarat pemain bintang yang tidak diberdayakan oleh klubnya sementara dia memiliki potensi yang besar. Maka untuk menyalurkan potensi besarnya itu, dia “terpaksa” angkat kaki dari klub yang selama ini membesarkannya. 

Saya bilang “terpaksa”, karena SYL dan Partai Golkar sebenarnya tidak bisa “dipisahkan”, sebab memiliki hubungan sejarah yang panjang. Dimulai dari bapak dan ibunya yang notabene adalah “dedengkot” Partai Golkar daerah ini, sehingga SYL pun kerap diibaratkan sebagai pewaris yang memiliki “darah biru” kegolkaran yang tak diragukan lagi.  Saya melihat, hijrahnya SYL merupakan berkah bagi Nasdem sebagai “partai baru” yang memiliki prospek cerah di pentas politik negeri ini. Sebagai pemilik klub sekaligus talent scouting, Surya Paloh mempunyai kemampuan membaca pemain yang bertalenta dan bisa menjadi motor serangan. 

Bagaimanapun sebagai partai baru, Nasdem membutuhkan figur yang bisa menjadi striker, playmaker, kreator, destroyer, dan goal getter. Dan SYL adalah pigur yang punya kemampuan dimaksud. Juga untuk menempati aneka posisi, termasuk sebagai penjaga gawang. Walau Partai Nasdem memiliki banyak politisi berpengalaman, tetapi bergabungnya SYL membawa warna tersendiri dan sangat diharapkan akan bisa mengangkat Partai Nasdem ke puncak klasemen.  Dengan modal “Investasi Sosial”, Aset Sosial dan Saving yang dimiliki, SYL tentu akan lebih piawai berakrobat di lapangan politik. Lebih penting lagi karena SYL adalah figur yang sudah ditempa oleh proses yang panjang dan berwarna. Beliau telah banyak makan “asam garam” politik sehingga memiliki karakter yang paripurna. Tidak seperti kebanyakan politisi sekarang yang muncul secara dadakan lewat pelbagai manuver murahan. Bahkan tak jarang harus menelikung teman seiring, yang dalam kamus budaya Bugis Makassar disebut sebagai fenomena “Sianre bale”.

Ada yang berpendapat, SYL bukanlah politisi sejati lantaran hanya bisa berpindah dari satu partai ke partai lain.  Tidak seperti Wiranto, Surya Paloh, Harry Tanu, dan figur lainnya yang langsung membuat partai baru. Saya pikir itu adalah anggapan yang kurang berdasar. Selain karena membuat partai membutuhkan pertimbangan panjang, SYL sendiri adalah pemain dan bukan pemilik klub. Dan kehebatan seorang pemain dibuktikan oleh kemampuannya membawa klub yang dibelanya menjadi pemuncak klasemen. 

Artinya, nama besar yang disandangnya telah melampaui nama besar dan popularitas klub yang dibelanya. Sama seperti Maradona yang lebih populer dibanding Napoli, Frans Bekhenbauer dengan Bayern Munchen, dan seterusnya. Hal menarik lainnya, karena ketika para pemain bintang akan meninggalkan klub yang pernah dibawanya ke tangga juara, dia tetap dielu-elukan sebagai pahlawan. Kita tak pernah lupa saat Maradona meninggalkan Napoli, Johan Cruyff meninggalkan Barcelona, atau Van Basten di AC Milan. 

Para pencintanya, bahkan dengan histeris mengungkapkan rasa kehilangan, “Jangan tinggalkan kami......”

Suasana kebatinan seperti inilah yang sangat terasa saat SYL akan memasuki hari-hari terakhirnya sebagai birokrat, dan sebagai politisi yang telah berhijrah ke Partai Nasdem.  Artinya, SYL memang sebuah fenomena dan publik akan setia menunggu gebrakan-gebrakan politiknya.