Edelweis, Bunga Abadi yang Hampir Punah

Edelweis, Bunga Abadi yang Hampir Punah

KabarMakassar.com-- Edelweis adalah sejenis bunga endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Nusantara. Bunga ini hanya dapat tumbuh dan berkembangbiak di daerah pegunungan, terutama di daerah berbatu dan berkapur pada ketinggian 1.600-3.600 Mdpl yang biasanya merupakan tebing-tebing curam di lereng gunung dengan cahaya matahari penuh.

Konon edelweis diibaratkan simbol keabadian atau bunga abadi. Mengapa demikian? Bunga dari famili Asteraceae ini “abadi” karena adanya hormon yang bisa mencegah kerontokan sehingga flora tersebut tahan lama dan tidak mudah rusak. Julukan ini dikhususkan pada jenis edelweis Leontopodium alpinum Cass, yang berasal dari pegunungan di Eropa.

Edelweis Jawa merupakan bunga majemuk dengan jumlah bunga yang banyak dan susunannya rapat. Kehadiran bunganya akan menjadi sumber makanan bagi banyak serangga penghisap nektar. Semakin banyak ketersediaan nektar dan serbuk sari pada bunga, maka kehadiran serangga polinator pun semakin tinggi, sehingga terjalin hubungan saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme antara serangga polinator dengan bunga ini.

Berbeda dengan bunga lainnya, edelweis tak mudah layu.  Di dalam bunga edelweis terkandung hormon khusus yang disebut hormon etilen. Hormon ini dapat mencegah terjadinya kerontokan pada kelopak bunga. Karena itu, edelweis dapat mekar hingga 10 tahun lamanya.

Walau bunga edelweis sudah mulai banyak dibudidayakan, bunga ini tetap menjadi perhatian utama pemerintah dan dilindungi dengan Undang-undang. Sebab, bunga ini semakin langka karena ulah para pendaki gunung yang tidak taat terhadap peraturan dan memetik bunga edelweis sesuka hati.

Di tanah yang miskin hara dan terganggu akibat kebakaran, edelweis Jawa berperan sebagai tanaman penutup yang mampu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehingga meminimalkan risiko erosi.

Dan catatan yang paling penting adalah jangan pernah merusak lingkungan. Jaga kelestarian lingkungan di manapun kita berada. Biarkan Edelweis tetap bersatu dengan alam dan menyambut para pendaki dengan keindahannya. [Nur Fadhilah Sophyan/BerbagaiSumber]

Penulis :

Editor :