Bagaimana Psikologi Menjelaskan Kasus Abu Tours?

Bagaimana Psikologi Menjelaskan Kasus Abu Tours?

KabarMakassar.com --- Banyaknya korban dari kasus penipuan berkedok penawaran perjalanan ibadah seperti Haji dan Umroh seperti Abu Tours menuai tanya bagaimana tindakan kriminal berkedok perjalanan ibadah dapat menjamur hingga memakan banyak korban.

Diwawancarai oleh Redaksi KabarMakasar.com, Istiana Tajuddin, Psikolog Kota Makassar menjelaskan fenomena kasus kriminal seperti Abu Tours dapat dijelaskan melalui teori psikologi.

"Seseorang memiliki kecenderungan untuk mengikuti perilaku yang sama ketika perilaku yang diikuti itu mendapatkan reward. Dalam hal ini para jemaah terdahulu membayar murah dan diberangkatkan. Oleh karena itu, hal tersebut diikuti oleh banyak pihak," jelas perempuan yang kerap disapa ibu Isti pada Selasa, 3 April 2018.

Ibu Isti menjelaskan penipuan yang dilakukan Abu Tours maupun First Travel yang terjadi di Jakarta dapat bertahan cukup lama sebelum diketahui memakan korban sebab berhasil ditutupi dengan kenikmatan manfaat yang diperoleh para pengguna jasa travel yang cukup baik tersebar di masyarakat.

"Konsumen di Indonesia pada umumnya tidak melakukan penelitian ketika membeli barang. Ada kecenderungan mudah ikut pada apa yang dikatakan oleh iklan sebagai model promosi," jelasnya.

Saat ditanya mengenai apakah kasus penipuan seperti Abu Tours bertahan karena menggunakan kedok ibadah sebagai produk yang dijual, Psikolog sekaligus dosen jurusan Psikologi Universitas Hasanuddin  tersebut menjawab fenomena itu dapat dijelaskan dengan Teori Belajar Sosial dari Bandura.

"Jadi saya perlu luruskan dulu ya. Menurut saya Abu Tour itu bukan kasus penipuan pada awalnya, tapi salah hitung akibat pekulasi pemilik terlalu tinggi, hanya saja dilihat dari sudut pandang psikologi, kita bisa lihat dari Teori belajar sosial dari Bandura yang menjelaskan bahwa perilaku yang mendatangkan reward bagi yang melakukannya, biasanya akan diikuti oleh orang lain," jelasnya.

Ibu Isti menambahkan, para korban akhirnya dirugikan oleh pihak penyedia jasa perjalanan ibadah ini juga didukung dengan modelling yang dimiliki oleh manusia.

"Sistem marketing-nya yang massif ditambah dengan bukti yang ada membuat banyak yg mulai melakukan modelling atau mengikuti perilaku pelaku sebelumnya yakni ikut membeli
," tambahnya.

Perlu diketahui, Abutours dianggap telah gagal total karena tidak mampu memberangkatkan puluhan ribu jamaahnya hingga menghilangkan dana jamaah yang seharusnya telah diberangkat untuk beribadah di tanah suci.

Tim penyidik dari Ditreskrimsus Polda Sulsel juga telah menyita 34 aset milik PT Abu Tour di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Penyitaan tersebut menyusul bos besar atau CEO PT Abu Tour, Hamzah Mamba alias Abu Hamzah, ditetapkan penyidik Fismonev Polda, sebagai tersangka pada Jumat, 23 Maret 2018.

Penulis :

Editor :