Perusda
Bank SUlsel Bar

Sewindu Kepergian Rinra Sujiwa Syahrul Putra

on 1/2/18 Oleh
Sewindu Kepergian Rinra Sujiwa Syahrul Putra
[Foto: Ist]

‘’Inda….

Kutahu kau bahagia di sana, di sisi Allah

Inda.. tetap tak terjawab

Dan…kaukah malaikat dan bidadari-bidadari itu

Inda….

Berjuta maaf telah tertebar untukmu

Bertriliun harap kamu bahagia gembira di sana

Di surga Allah yang kekal

Dan di sini, kujajaki cita-cita dan segala harapmu

Dan di sini, kan kuwujudkan impianmu

Membangun rakyat dan bangsa yang lebih baik!

Kutipan puisi berjudul ‘’Menelusuri Kehilangan’’ yang saya kutip ini merupakan bagian dari elegi peringatan setahun kepergian Rinra Sujiwa Syahrul Putra, tahun 2012. 

Rinra, yang karib di kalangan keluarga disapa sayang dengan nama Inda berpulang ke rakhmatullah 31 Januari 2011 dinihari menjelang subuh di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Jawa Barat.

Jenazahnya dikebumikan di Pekuburan Islam Panaikang Makassar, 1 Februari 2011. 

Tujuh tahun kepergian Inda diperingati keluarga Syahrul Yasin Limpo (SYL) dengan zikir berjamaah yang dirangkaikan dengan salat magrib  di kediaman pribadinya Kompleks Bumi Permata Hijau (BPH), Rabu (31/1/2018).

Kalangan kerabat dan handai tolan hadir dalam acara tersebut, bertepatan dengan SYL menghitung hari mengakhiri sepuluh tahun kepemimpinannya yang bertabur prestasi dan penghargaan yang tak terbilang.

Kematian memang bukan hal yang menyenangkan bagi yang hidup.

Kematian akan mengakumulasi dan mengolaborasi seluruh rasa yang yang berlawanan dengan nilai  nan menyenangkan yang ada di dalam diri manusia. 

Kesedihan. Juga bukan hal yang nyaman dibicarakan dan diperdebatkan.

Kematian adalah suatu keniscayaan. Peristiwa yang tidak mengenal kebijaksanaan dan dispensasi. Siapa pun dia. 

Kematian seorang manusia memang kadang bisa sangat mendadak bagi keluarga, tetapi tidak bagi maha Pencipta yang sudah menentukan jadwal buat  para hamba yang akan menemui-Nya.

Manusia hanya dapat menafsirkan sejumlah tanda yang baru terungkap ketika saat kematian itu berlalu.

Begitulah dengan Inda yang berasal dari kata ‘Rinra’’ yang diambil dari bahasa Makassar yang bermakna ‘’cahaya’’. ‘’Sujiwa’’ yang terdiri atas ‘’su’’ dan ‘’jiwa’’.

Su dalam bahasa Sansekerta bermakna ‘’baik’’ dan ‘’jiwa’’ berarti ‘’jiwa. Jadi Rinra Sujiwa adalah ‘’cahaya jiwa yang baik’’. Pengertiannya adalah cahaya atau kehidupan yang baik dan selalu berkobar-kobar.

Setelah kepergiannya, Inda menitipkan sejumlah misteri, isyarat yang tidak pernah terpecahkan hingga tarikan napasnya yang terakhir.

Tanda-tanda itu sepertinya selalu datang lebih cepat dan kita yang masih hidup sering terlambat memaknainya.

Menjelang tanggal 26 Desember 2010, Inda dan rombongannya terbang ke Malaysia untuk ikut mendukung tim Nasional PSSI berhadapan dengan tuan rumah Malaysia di Stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur dalan Kejuaraan Piala Suzuki ASEAN Football Federation (AFF) 2010.

Dia berbaur dengan 90.000 penonton yang menyesaki stadion guna menyaksikan pertandingan yang dipimpin Masaaki Toma dari Jepang itu. Sayang, Malaysia ‘’menewaskan’’ Indonesia tanpa balas, 3-0 di bawah sorotan dominasi mata para penggemarnya.

Dalam pertandingan tandang di Stadion Utama Bung Karno, 29 Desember 2010, Indonesia menang 2-1 atas Malaysia dalam pertandingan yang dipimpin Peter Daniel Green dari Australia. Malaysia yang unggul  ‘’aggregate’’ 4-2, tampil sebagai juara Piala Suzuki ASEAN Football Federation – AFF 2010.

Ketika melawat ke Malaysia, Inda suka mengenakan baju bola yang di punggungnya tertera 11.

Dia memang menyenangi angka 1. Tidak ada yang paham tentang angka pertama yang kawin ini.

Kebanggaannya terhadap angka 11 itu dia perlihatkan dalam setiap foto-fotonya. Tangannya menunjuk ke angka 11. Semakin banyak orang kian tidak mengerti tentang tanda-tanda ini.

Ternyata misteri angka 1 itu kemudian terkuak ketika dia menemui Al Khalik. Angka 11 itu menurut saya, bermakna bahwa dia akan menemui Yang Maha Pencipta pada tahun yang berekor 11 (2011). 

Angka 1 pertama adalah ekor dari tanggal 31 dan angka 1 kedua adalah bulan Januari. Sehingga genaplah sudah takwil misteri angka 11 tersebut (31-1-2011).

Pemahaman akan misteri angka-angka ini tak segera terjawab.

Sang ayah, SYL baru paham angka-angka itu saat tangannya terasa kaku dan berat menaburkan bunga di atas pusara Inda 40 hari setelah kepergiannya.

SYL bagaikan tersetrum oleh mimpi panjang untuk kemudian baru dapat memahami misteri angka-angka itu.

Misteri angka lain, 28 Januari 2011, Inda pulang ke Makassar. Dia rindu akan ayah dan ibunya, juga saudara-saudaranya. Kepulangannya ini terasa sangat tiba-tiba dan serba mendadak.

Dia pulang memberitahu keluarga baru saja memperoleh ‘’nindya praja” sekaligus  memiliki  nomor induk pegawai (NIP) dengan nomor, 1988.1023.2010.1010.1001.

Nomor induk pegawai itu merukuk pada tanggal lahirnya, 23 Oktober 1988 dan terhitung mulai diangkat tahun 2010. Inda dalam canda berkata, meski sudah punya NIP, namun belum bergaji.

Tidak hanya itu tanda yang tertitip dan baru dapat ditakbirkan dan ditakwilkan (diungkapkan).

Pada kedatangannya itu, Inda minta tidur se-ranjang dengan ayah dan ibunya. Dia memeluk ayahnya dengan erat dengan respons yang sangat girang tentunya.

Ayah dan ibunya sangat bahagia dan senang dipeluk sang anak menjelang kembali dan meninggalkan rumah demi menuntut ilmu.

Keesokan hari, Inda tampak girang setiap mendengar kata maaf dari setiap orang yang dikenal di sekitarnya saat meminta maaf.

Sabtu (29/1/2011), dia terbang ke Jakarta, pulang kembali ke kampusnya. SYL menyertai buah hatinya, karena ada acara di ibu kota negara yang harus diikuti.

Sebelum terbang, di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Inda seakan bercanda kepada Bripka Nasir S.Sos, pengawal Gubernur Sulsel.

‘’Tunggu hari Senin saya pulang, Om!,’’ tiba-tiba terdengar kalimat Inda yang kedengarannya bercanda. Mustahillah dia pulang, karena Sabtu saja baru ke IPDN untuk melanjutkan kuliahnya.

Di Mess Pemda Sulsel Jl. Yusuf Adiwinata Jakarta,  sang ayah terakhir bertemu dengan anak kesayangannya. SYL tak henti-hentinya menawarkan tambahan uang jajan baginya.

‘’Saya sudah dapat dua amplop dari Ibu. Ini pun tidak habis,’’ kutip SYL dalam ‘’Ketegaran Kenangan Cinta’’ (2012)  yang ditulisnya bersama Asdar Muis RMS (alm.) dan Muhammad Irham. 

Inda bahkan sempat membuka dompetnya.

‘’Masih ada lebih Rp 300 ribu. Ini juga tidak habis,’’ imbuhnya memyakin sang ayah.

SYL menaiki mobil dinasnya. Inda berdiri di samping dan membukakan pintu buat ayah tercinta. Dia memberi hormat, layaknya seorang ajudan gubernur.

‘’Anakku sudah sesuai cita-citaku, ‘’SYL yang tertegun, membatin dalam.

Ternyata, itulah untuk terakhir kali sang ayah berinteraksi dengan sang anak tercinta. Senin dinihari, menjelang subuh, Rinra Sujiwa Syahrul Putra dipanggil oleh Allah swt. ‘’Inna lillaihi wa inna ilaihi rajiuun…!’’