Perusda
Bank SUlsel Bar

Niat Kumpul Bersama Suami, Ternyata Bankir Ini Berakhir di Bui

on 21/1/18 Oleh Hendra N. Arthur
Niat Kumpul Bersama Suami, Ternyata Bankir Ini Berakhir di Bui
Ilustrasi

KabarMakassar.com --- Setelah tiga tahun berkarir di kampung orang. Akhirnya Bankir ini dapat kado special dari tempatnya bekerja.

Kado istimewa itu. Karyawati itu diberi kesempatan kembali ke kampung halamannya di Kota Makassar.

Alumni salah satu kampus swasta di Makassar ini bermimpi ingin kembali merajut kasih bersama suami tercintanya.

Setelah tiga tahun terakhir ini. Dirinya dan pasangannya telah lama berhubungan jarak jauh. Kesibukan keduanya sang suami kontraktor dan istri yang terus mengejar karir.

Keinginan wanita berkacamata ini akhirnya terkabul. Tempatnya bekerja telah memintanya memegang posisi penting di bank pemerintah di kota ini. 

Tak heran, jika karir perempuan berinisial "YV" ini terus melambung. Setelah tiga tahun berkarir di luar Sulsel.

Tiba saatnya YV mengendalikan 14 unit cabang di area jangkauan perusahaannya. Dia merasa ingin kembali merajut kasih bersama mantan kekasihnya.

Setelah delapan tahun berumah tangga. Keduanya belum dianugrahi seorang anak pun. Kesibukan keduanya yang membuat mereka sulit mendapatkan momongan.

Memasuki bulan Desember tahun ini. Kesepakatan keduanya ingin merayakan Natal dan Tahun Baru bersama sudah di depan mata. 

Namun apa yang terjadi. Tepat bulan November 2017. Wanita berdarah tionghoa Makassar ini terpaksa harus menjalani masa tahanan.

Akibat tersandung kasus kesalahan Standard Operasional Prosedure (SOP) perbankan di tempatnya bekerja. 

Posisinya sebagai orang berpengaruh di lingkungan kerjanya harus menanggung tuntutan nasabah.

Wanita berusia 41 tahun ini harus berurusan dengan hukum. Ketika seorang nasabah melaporkannya ke kepolisian.

Meski perempuan berkulit putih ini tidak merugikan perusahaan secara finansial. Tuntutan nasabah penunggak utang bank itu berhasil memproses kesalahan wanita ini hingga dijatuhi vonis ancaman tiga tahun penjara.

Dia menceritakan nasabah yang terkena kredit macet. Menunggak angsuran kredit sejak bulan pertama.

YV bertanggung jawab dalam penanganan nasabah itu. Lansung mengambil tindakan dengan menjual jaminan nasabah berupa satu unit mobil.

"Tapi, ketika sedang dalam pengurusan administrasi dengan pihak Bank Pusat, ternyata nasabah telah melaporkan Yuvi kepada pihak berwajib dan akhirnya Yuvi dihukum 3 tahun penjara pada November lalu". tutur wanita kelahiran 1976 ini. 

Meski tak merasa bersalah. YV harus ikhlas dengan tuntutan itu. Dia pun terus berdoa sambil memperjuangkan agar keadilan tetap berpihak pada dirinya.

Perempuan ini mengaku sebagian besar keluarganya menetap di luar kota. Hanya dirinya dan suami tercintanya yang menetap di Makassar. 

Keluarga selalu mendukung dan memberikan semangat kepada dirinya. "Suami saya sadar, jika kasus ini bukan kejahatan murni melainkan hanya persoalan administrasi. Begitupun orangtua yang tetap mendukung dan memberikan semangat kepada saya," ujarnya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.

Walaupun pertama kaget. Tapi orangtua melalui ibu kandungnya percaya yang dilakukan dirinya bukan seperti pembunuh atau koruptor.

Persoalan ini murni kasus kersalahan administrasi. "Tetap ingat orangtua, tetap ingat pesan orangtua, bahwa selalu ingat Tuhan, Tuhan punya rencana yang indah dan lebih baik dan pasti ada campur tangan Tuhan dalam segala hal," kisah YV dengan suara seraknya. 

Isteri kontraktor swasta ini menuturkan seumur hidupnya baru pertama kali merayakan natal yang jatuh tepat 25 Desember di dalam Lapas.

Meski tiga tahun terakhir ini, dirinya selalu merayakan natal atau mengambil cuti liburan ke luar negeri.

Natal tahun ini, menjadi pengalaman tersendiri bagi wanita karir ini.

"Banyak pengalaman yang diperoleh di dalam rutan. Bisa makan ramai-ramai dengan sesama penghuni lapas, bekerja bersama, dan tetap dalam kesederhanaan. Walaupun malam natal hanya kue biasa tapi rasa persaudaraan terasa sangat kental," tutur YV dengan suara yang tampak tertahan menahan perih. 

Sebagai tahanan lapas. Dia mengaku mendapat perlakuan yang baik dari para penjaga, dilayani dengan baik, dijaga, diberi makan dan diberikan kesempatan mengelola administrasi di koperasi Lapas. Begitupun soal keagamaan, lapas memberikan fasilitas kepada para tahanan agar belajar dan tekun beribadah. 

"Di lapas semua baik-baik walaupun kita berbeda agama, suku, ras tapi semua baik-baik. Malam natal menjadi sangat sederhana. Saya hanya berdoa secara pribadi kepada Tuhan," ujar dia karena rekan satu kamarnya. Hanya dirinya saja yang beragama nasrani.

Tetapi itu dimanfaatkan Bankir ini untuk lebih dekat dengan sang pencipta. Dia mengaku banyak berbuat salah. Ketika libur panjang yang jatuh pada saat Natal. Dirinya sering memanfaatkan liburan natal hanya jalan-jalan keluar negeri. 

Tak pernah sekalipun wanita ini memanfaatkan momentum itu untuk ibadah. Natal tahun ini, dia mengaku baru menyadari bagaimana pentingnya lepas pribadi dengan sang pencipta. "Tiga tahun terakhir ini saya tidak pernah merayakan natal. Cuti natal hanya saya manfaatkan libur keluar negeri," tuturnya.

Di dalam lapas dia merasakan natal dan tahun baru yang sangat beda. Natal kali ini dianggap lebih berkesan.

"Pertama kali dalam hidup saya menyanyi dan beribadah Natal dengan khidmat di Gereja. Itu pun gereja di dalam lingkungan Lapas. Walaupun tidak bersama keluarga, tapi suasana lapas ini membawa saya berkumpul dengan keluarga besar dari berbagai latar belakang yang berbeda," tutup wanita yang lahir bulan Januari ini. 

Pengakuan Edha, salah satu sipir Lapas Kelas I Makassar menjelaskan warga binaan Lapas inisial "YV" ini selalu belajar. Mengikuti aturan yang diterapkan, selalu taat terhadap aturan. 

Sipir lapas ini pun memberi pandangan Bankir ini selalu menjadi contoh buat para napi lainnya karena sosoknya rajin dalam bekerja, taat beribadah, pintar dalam mengatur manajemen koperasi di Lapas. 

Kisah ini sebagian kecil cerita warga binaan Lapas Kelas I Makassar.

Pesan dari kisah ini sederhana. Apapun profesimu, jika sang pemilik bumi ini berkehendak. Segalanya bisa terjadi. (*)